BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Selasa, 22 Oktober 2013

Ziarah Puisi Untuk Andi Munajat


andi munajat?
jangan tanyakan nama itu
kepada para angkatan 1980-an
fakultas filsafat universitas gajah mada
pasti mereka akan mengenalnya.


tapi tanyakan nama itu
kepada kawan-kawan
yang pernah bergelut 
sebagai aktivis mahasiswa
di tahun-tahun sembilanpuluhan
tidak perduli apakah mereka bergelut 
sebagai aktivis diskusi 
sebagai aktivis pers
sebagai aktivis aksi
atau sekaligus merangkap ketiganya
pasti akan mengenal 
sosok seorang aktivis bernama:
andi munajat.

di balik mata dan pikiranku
andi munajat adalah seorang kawan
bersosok kulit coklat gelap
mata merah sayu
lusuh dan kumuh
yang terkesan jarang mandi
rambut lurus berminyak
gondrong terkesan tanggung
tidak  pernah disisir
bibirnya yang hitam gosong
akibat sisa lengket nikotin
putus sambung tiada henti
sambil terus memuntahkan 
murah senyumnya
jika matanya dilihat 
oleh kawan yang melihatnya
meski sebagai perokok mania
tapi dia paling demen 
rokok djarum filter
tidak doyan yang lainnya
pernah di pagi paling buta 
andi harus berjalan kaki
menyusuri warung rokok 
yang menjual djarum filter
hingga sejauh lima kilometer
sekali lagi, 
andi tidak pernah meminta rokok
kecuali rokoknya acap laris 
diminta kawan-kawannya.

andi munajat
nama itu melekat 
di setiap hati kawan
khususnya kawan yang merindukan
teman berdiskusi
hanya andi yang enak 
diajak bicara
berdiskusi tanpa jarak waktu
bagai pagelaran wayang kulit 
semalam suntuk
asalkan ada bergelas-gelas kopi
dan tiga bungkus rokok djarum filter
siap mengembara 
ke langit-langit wacana
menambah ke khazanah berpikir
yang semula kering menjadi bermekaran
dari socrates sampai tan malaka
dari plato sampai nabi muhammad
tiada satupun perpustakaan 
yang terlewatkan dari mulutnya
ide-idenya bagaikan sebuah taman
 flora dan fauna
yang menyajikan aneka 
kebak tumbuhan
dari bunga mawar sampai pohon pace
meranah sampai ke semak belukarnya
yang menawarkan aneka kebak hewan
dari panda sampai kecoak
merambat sampai ke kutu rambut
itulah andi munajat.

tapi belakangan 
sejak andi berada di kecamatan jetis
jalan cokrodiningratan jogjakarta
di matanya hanya nasruddinsyah alias iphun
yang patut mendapat gelar simpatiknya
sebagai mbahnya tukang diskusi
masih kuingat dua puluh dua tahun silam
ketika kami diciduk 
di halaman pengadilan negeri jogjakarta
ketika sedang berlangsung vonis
terdakwa subversib bonar tigor naipospos
kami ditahan dalam sel  brimob jogjakarta
sel yang sengaja tidak dikunci dari luar
dalam kondisi yang serba hati-hati
andi masih sempat mengisi waktu 
dengan diskusi kecil-kecilan
sambil memegang kulit leherku
bekas sundutan rokok petugas 
kala intrograsi berlangsung
dia memberikan pertanyaan
yang saat itu tidak aku gubris
karena kondisiku yang serba panik
dan kesehatanku mulai mengendur:
apakah pendidikan 
yang kita dapatkan selama ini
membawa pembebasan  bagi manusia?

sejak insiden itu
aku kehilangan kontak dengannya
belakangan kuketahui 
dia bersama kawan-kawan lainnya
sibuk merintis aksi perlawanan 
dari smid sampai prd
tapi sampai akhir kekuasaan soeharto
dia malah menghilang 
entah kemana
konon belakangan 
dia sengaja menyingkir jauh
dari hiruk pikuk 
bagi-bagi kue roti kekuasaan
dia memilih berdiam diri 
di desa terpencil
propinsi kalimantan selatan.

andi munajat
sekali lagi nama itu 
terus saja melekat
ketika buah keadilan 
masih jauh dari pohonnya
dia hanya hadir mengisi
malam-malamku menjadi puisi

salam buat diva!



22 Oktober 2012


Salam,
Joe Hoo Gi 



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *