BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Rabu, 25 Januari 2017

Kembalikan Indonesia Dari Nuansa Ke-Nusantara-an


Saya rindu nuansa ke-Nusantara-an 
seperti keindahan warna-warni pelangi 
yang belakangan ini gumpalan awan mendung 
terus saja bertahan menutupi keindahannya



Jumat, 20 Januari 2017

Mengenang Peristiwa Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

Maksud dari tulisan saya ini, Mengenang Peristiwa Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin, hanya sekedar berbagi nostalgia dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 19 tahun yang silam betapa kekuasaan Orde Baru yang dibangun secara otoriter dan anti demokrasi selama 32 tahun telah membuat luka-luka penindasan yang dialami oleh segenap para anak bangsa dibiarkan semakin lebar menganga sehingga menjadi borok yang sakitnya terasa seperti jeritan amuk massa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di Banjarmasin. Semoga tulisan ini dapat menjadi intropeksi dan refleksi, betapa kekuasaan yang dibangun secara otoriter dan anti demokrasi justru akan menuai badai di kelak kemudian hari. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya.


Senin, 16 Januari 2017

Diskusi Kelompok Studi Formasi Di Balik Keranda

Maksud dari tulisan saya ini, Diskusi Kelompok Studi Formasi Di Balik Keranda, hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari catatan kesaksian saya untuk mengenang kembali lembaran peristiwa sejarah 23 tahun yang silam betapa perjuangan untuk menegakkan tatanan sistem Demokrasi dan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) secara universal di Indonesia semasa dalam rezim kekuasaan Orde Baru, khususnya yang menyangkut hak kebebasan berekspresi, hak kebebesaan berpendapat dan hak kebebasan berserikat ternyata  banyak mengalami kerumitan yang berbelit-belit, rintangan yang berkelak-kelok tak menentu arah dan tantangan yang penuh ancaman resiko yang harus dibayar mahal sebagai pilihan perjuangan demi masa depan negara yang lebih bermartabat, beradab dan demokratis sesuai amanat dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Tulisan saya ini merupakan intisari dari catatan harian yang saya tulis ketika saya masih intens sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an.

Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Satu)


Tulisan yang bertajuk Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram, saya bagi menjadi dua serial tulisan. Serial pertama berjudul Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Satu) yang berlangsung di Kaliurang, Yogyakarta, dan serial kedua berjudul Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Dua) yang berlangsung di Lembang, Bandung.

Rabu, 11 Januari 2017

Antithesa yang Memblunder Pada Gerakan Mahasiswa Era 1990-an


Apa yang menjadi ciri khas krusial dari pola ideologis perjuangan aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an? Mengapa harus jatuh pada pilihan yang lebih spesifik kepada Gerakan Mahasiswa era 1990-an? Mengapa tidak langsung mengarah yang lebih ideal kepada Gerakan Mahasiswa di era Orde Baru mengingat pada era 1970-an juga telah lahir peristiwa Gerakan Mahasiswa yang pernah menorehkan peristiwa sejarah berskala nasionalnya seperti peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 yang dikenal dengan peristiwa Malari dan Insiden Berdarah 1978 di kampus ITB?


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *