BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Selasa, 22 Oktober 2013

Mengenang Sebagai Pasien Di RS Bethesda Akibat Intrograsi dan Intimidasi



Maksud dari tulisan saya berjudul Mengenang Sebagai Pasien Di RS Bethesda Akibat Intrograsi Dan Intimidasi hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 26 tahun yang silam betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an banyak mengalami terjal rintangan, penuh tantangan dan resiko yang harus diambil sebagai pilihan demi  untuk sebuah masa depan negeri yang lebih bermartabat, beradab dan demokratis sesuai amanat dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya. Semua nama aktivis yang terlibat dalam serangkaian peristiwa di sini saya samarkan cukup dengan inisialnya saja untuk menghindari segala kemungkinan ketersinggungan akibat dari kronologis peristiwa yang saya tulis apa adanya ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.




Senin,22 Oktober 1990

Pagi sekitar pukul 09.00 WIB saya berangkat ke kampus, bukan untuk kuliah melainkan pagi ini saya ada rencana dengan kawan-kawan memberikan aksi solidaritas kepada terdakwa subversib BTN dan BS yang rencana hari ini akan divonis oleh tim hakim  Pengadilan Negeri Yogyakarta. Kami rombongan terdiri dari 20 kawan (sebagian besar kawan-kawan dari Fakultas Hukum Universitas Janabadra) naik bis kota yang ditraktir secara patungan oleh Mnd dan Rny.

Pukul 10.15 WIB,
kami sudah sampai di depan PN yang sudah dipadati oleh banyak orang yang ingin menyaksikan jalannya vonis hakim. Saya perhatikan ternyata pengunjung hanya ada dua kelompok yaitu mahasiswa dan aparat militer (berseragam maupun intel). Dari wajah-wajah mahasiswa yang berkerumun di sekitar PN  tidak semuanya dari Yogyakarta, tapi ada mahasiswa dari perguruan tinggi di Bandung, Jakarta, Solo, Salatiga, dan Semarang. Semuanya wajah-wajah lama, tidak ada wajah-wajah baru. Jika ada "wajah baru" yang mengaku mahasiswa, maka tiada lain intel. Tapi terkadang saya tidak bisa membedakan mana intel dan yang mana wartawan sebab kadang intel pun juga banyak memakai kamera. Kami rombongan 20 kawan ternyata distop tidak diperkenankan masuk ke arena PN oleh pihak yang mengaku aparat keamanan meskipun di teras pintu keluar ruang sidang  juga tidak diperbolehkan. Kami dibentak cukup menyaksikan di luar pagar gedung PN.  Intel Kejaksaan bernama Ali Karim memberikan alasan kepada kami bahwa arena PN sudah full pengunjung maka lebih baik kami dipersilahkan mundur. Saya protes alasan yang disampaikan Bung Ali Karim dengan harapan kami diperkenankan untuk masuk. Alasan yang saya berikan kepadanya, pengadilan  ini terbuka untuk umum, jadi tidak ada alasan melarang kami. Protes saya justru berujung pada perdebatan. Beberapa wartawan (intel?)  tampaknya mulai mengambil gambar saya. Saya melihat Ariel Haryanto, dosen UKSW Salatiga, juga mengambil gambar saya lewat kameranya. Ada kira-kira 20 menit saya melakukan ajang perdebatan terbuka. Masih saya ingat  argumen saya kepada Ali Karim,"Apabila kami yang berada di luar dan tidak diperkenankan memasuki gedung PN untuk menyaksikan jalannya vonis maka saya mohon agar speaker pengeras suara ditaruh di luar pagar gedung PN agar kami semua dapat ikut mendengarkan jalannya sidang vonis." Tapi saran saya kepada Ali Karim justru tidak dijawab dengan kata-kata, mendadak seorang berbaju militer memegang kerah baju saya lantas dengan memaksa menyeret saya keluar ke arah pagar PN. Tidak hanya menyeret, saya mendadak dipukul bertubi-tubi. Aku berusaha menghindar dari pukulannya yang membabi buta, tidak cukup sampai di situ, mendadak saya dikeroyok oleh enam petugas berseragam polisi dan tentara. Secara spontan saya berteriak meminta pertolongan.  JT (filsafat UGM) berusaha menolong saya dengan menarik tangan kiri saya, tapi tangan kananku justru ditarik oleh salah satu aparat berbaju tentara. Beberapa aparat berdatangan bukannya ,menolong saya tapi justru turut memukuli kepala saya. Rambut saya yang panjang justru ditarik kuat-kuat sehingga aku jatuh tersungkur. Dalam kondisi tersungkur, saya diseret dan diinjak-injak dengan para sepatu laras milik aparat berseragam tentara. Saya diseret menuju pintu belakang mobil sedan polisi. Masih kudengar Ali Karim teriak kesetanan:"Ayo seret saja dan angkut saja dia ke kantor!"  sambil membentur-benturkan kepalaku ke sisi pintu belakang sedan. Mendadak saya tidak ingat apa-apa lagi sebab yang terjadi sekeliling yang saya lihat penuh dengan bintang dan berubah menjadi gelap sekali. Yang masih kuingat kawan MC dari arah jendela memberikan semangat pantang menyerah dengan kepalan tangan kirinya, dan teriakan histeris dari kawan Rny dan Nty yang tampaknya tidak tega menyaksikan kawannya diperlakukan seperti kecoak. Ternyata saya dibawa ke markas Brimob 5155. Di dalam ruang intrograsi Brimob ternyata tidak hanya saya yang menjadi korban penangkapan paksa di PN,  ada 5 mahasiswa lainnya ( semuanya berasal dari kampus yang sama, UGM) yang ikut dibekuk saat berlangsungnya vonis hakim, mereka antara lain: AM (filsafat), Ync (Sastra), Hfd (MIPA), Gdg (Fisipol) dan Ad (Hukum). Penangkapan AM tidak logis hanya gara-gara AM bertanya kepada aparat keamanan yang berjaga di PN lantas membuat AM harus diamankan. Sedangkan untuk Ync, Hfd, Gdg dan Ad ditangkap karena kedapatan membawa alat pemotong kertas (cutter) yang oleh aparat diindikasikan sebagai pelanggaran membawa senjata tajam. Intrograsi berlangsung mulai pukul 11.10 – 12.46 WIB. Ketika intrograsi berlangsung, saya diperlakukan di luar KUHAP. Saya diintimidasi secara phisik, dipaksa mengakui kesalahan, ditampar, dipukul, dicekik dan disunduti rokok. Kami berenam disekap di sebuah ruangan dari pukul 13.10-20.15 WIB. Secara kebetulan saya melihat beberapa petugas membawa masuk hasil rampasannya berupa peralatan perkemahan milik kawan-kawan yang melakukan aksi solidaritas di areal bunderan UGM. Ini berarti di luar sana telah terjadi chaos insiden pembubaran dan perampasan secara paksa.

Pukul 20.30 WIB, 
kawan-kawan sudah berdatangan membesuk kami. Mereka antara lain HN (UJB), FJD (UJB), Wby (UGM) dan L (UGM) yang didampingi Nur Ismanto dari LBH Yogyakarta. Saat mereka hadir, AM sudah tidak bersama kami lagi, sebelumnya AM dipanggil untuk diintrograsi kembali. Menurut petugas di Brimob, kami berenam harus diantar keluar menuju kantor Polresta, alasannya hanya Kapolresta yang dapat menjamin kami bebas.

Pukul 21.00 WIB, 
kami berenam meninggalkan markas Brimob digiring menuju kantor Polresta. Ternyata sesampai di Polresta, kami berenam disidik jari dan satu persatu diambil gambar dengan berbagai posisi.

Pukul 21.45 WIB, 
saya digiring ke sebuah ruangan khusus, di dalam sudah duduk Soeripto, Pembantu Rektor III UJB dan Letkol Bambang Susetyo. Soeripto mengecam tindakan saya yang tidak bisa loyal dengan aparat keamanan. Banyak nasihat minor yang dicercakan kepada saya. Bahkan alur nasihat yang diberikan Soeripto kepada saya sudah tidak relevan lagi. Dia mulai menyinggung soal kegiatan-kegiatan aksiku dengan kawan-kawan yang terlalu usil mempersoalkan kasus tanah untuk kampus terpadu UJB di desa Trini. Kekeliruannya Soeripto menganggap saya bagian dari anggota Kelompok Studi Inovatif UJB. Padahal saya tidak mengenal sama sekali orang-orang yang duduk di KSI-UJB.

Pukul 22.35 WIB, 
saya dinyatakan bebas bersyarat dengan melengkapi Surat Pernyataan bermeterai yang isinya sudah ditentukan dan direncanakan oleh kebijakan standar kekuasaan militer.
Pukul 22.45 saya dan Soeripto sudah meninggalkan kantor Polresta. Saya diantar oleh Soeripto dengan mobilnya menuju kediaman kost saya di Badran.


Selasa, 23 Oktober 1990,

Pukul 00.30 WIB, 
saya harus ke kost HN sebab kunci kost saya titipkan kepadanya.  Ternyata HN tidak ada di kost, sedemikian pula HT juga tidak ada. Ketika memasuki kamarnya HT yang tidak pernah dikunci, mendadak saya kehilangan kesadaran. Segalanya menjadi gelap sekali. Saya terjatuh (tertidur?) tidak sadarkan diri.

Pukul 02.15 WIB,
saya dibangunkan oleh HN dan SA. Badanku terasa berat dan sakit semua. SA sempat meluangkan waktu memijat tangan saya yang sakit.

Pukul 02.35 WIB,  
HN dan SA segera mengajak saya untuk menuju ke LASKI. Di LASKI saya disambut antusias oleh kawan-kawan. BS menuturkan kepadaku, dia tidak akan tidur jika belum bertemu dengan saya. Saat itu juga kawan-kawan sibuk bikin statement dan pers release perihal penangkapan kami oleh aparat Brimob dan pengrusakan oleh aparat Brimob terhadap perkemahan aksi solidaritas di lapangan Boulevard UGM.

Pukul 03.15 WIB,
saya meluangkan waktu untuk tidur sebab kesehatanku terasa invalid.

Pukul 09.30 WIB,  
BS membangunkanku. Aku betul-betul merasakan tersiksa untuk bangun. Saya katakan kepada BS betapa saya sudah tidak berdaya lagi. BS menyarankan agar aku segera dibawa ke RS. Tanpa banyak bicara BS mengantarkan aku ke RS Panti Rapih dengan sepeda motornya. Saya digiring ke ruang UGD untuk segera mendapatkan perawatan. Ketika saya berada di ruang UGD, BS pamit ke luar sebentar. Ada 45 menit saya menunggu kehadiran BS ternyata tiada kunjung datang.  Pihak RS mengatakan bahwa saya perlu mondok, tapi berhubung kondisi RS Panti Rapih full pasien, maka dia menyarankan agar saya mondok ke RS yang lain. Beberapa menit kemudian, Nty dan SA datang, mereka mengantarkanku ke RS Bethesda. Sesampai di RS Bethesda, saya dilakukan scan otak. Dokter memberitahukan kepada Nty kalau saya mengalami memar di bagian tengkorak saya. Keputusannya, saya diwajibkan mondok. Nty lah yang mendorong tubuhku dengan kereta ranjang dorong hingga ke tempat ruang di mana saya mondok. Sesampai di ruang tempat saya mondok telah banyak kawan UJB yang sudah hadir membesuk duluan, mereka antara lain: Tgp, App, Mnd dan Ttq. Mereka lah yang mengangkat tubuhku dari kereta ranjang dorong ke ranjang pasien.

Pukul 13.15 WIB,  
SYAP yang mewakili Jakarta-Jakarta datang mewawancaraiku. SYAP bisa sampai ke sini diantar oleh FJD. AH dari Bernas yang juga mahasiswa IAIN Suka  juga hadir mewawancaraiku.

Pukul 17.00 WIB,  
Bs, JH dan Dw dari ISI datang membesuk. Ketiganya menghiburku dengan cara bikin komedi, sehingga pasien di sebelahku, Sugiman namanya, terbahak-bahak melihat dan mendengarkan lawakan mereka bertiga. Beberapa menit kemudian App datang menjenguk, dia terpingkal-pingkal melihat dagelan Bs dan JH.

Pukul 18.45 WIB, 
kawan-kawan dari KPM UGM datang, mereka antara lain: BS, AM, Ddg dan Snt (FDPY). Disusul Rnd (FDPY) yang membawa roti dan tea celup.
Tengah malam, HT datang menjenguk membawakan bacaan untukku berjudul:”Mati Ketawa Cara Rusia” karya Delgopolova. Aku katakana kepada HT kalau buku ini sdh selesai aku baca tiga bulan lalu.

Rabu,24 Oktober 1990,

Tidur saya betul-betul tidak bisa lelap, dikarenakan saya terganggu oleh teriakan oleh salah satu  pasien di ruanganku yang menderita geger otak. Pukul 09.00 WIB, TA (FDPY), Rni, Nty, Ttq, HT, App dan KS datang menjengukku. TA membawakan buah jambu buatku, tapi ketika aku makan ternyata jambunya busuk semua dipenuhi ulat. Beberapa menit kemudian Hdr datang.

Pukul 17.15 WIB,  
AES (FFF), Nni (FDPY),  Wd (FDPY) dengan Ync pacarnya dan SB datang membesukku. SB memberikan koment canda kepadaku,,”Di Indonesia, tidak hanya palu dan arit yang dilarang, tapi cutter pun juga dilarangnya terbukti Ync tertangkap akibat ketahuan membawa cutter.” AES memberikan buku bacaan kepadaku, Soe Hok Gie,”Di Bawah Lentera Merah: Riwayat SI Semarang 1917-1920”.

Pukul 18.00 WIB, 
Ibu Ncy dosen UJB bersama suaminya datang menjengukku. Dia mendoakan saya dengan ritual doa Nasrani.

Pukul 19.30 WIB,  
AS menjengukku. AS memberitahuku kalau kawan tugas jaga malam ini adalah Hdr. Tapi Hdr keduluan pamit pulang sebelum AS datang. Malam ini HN dan MC yang menemaniku sampai pagi menjelang.


Kamis,25 Oktober 1990,

Pukul 0855 WIB, 
AES datang menjenguk. AES membawakan harian Kompas dan memberitahukan kalau Kompas hari ini memberitakan tentang insiden penangkapan 6 mahasiswa. Isinya justru mendiskreditkan kami. Kompas menulisnya melalui versi pihak kepolisian yang menganggap ke-6 mahasiswa yang ditangkap aparat kepolisian sebagai pengacau keamanan.

Pukul 09.35 WIB, 
Nty dan Ttq pacarnya datang menjengukku. Beberapa menit kemudian disusul Wd tanpa Ync pacarnya datang membesukku. Selama 45 menit, Wd menemaniku. Setelah Wd pamit pulang, beberapa menit kemudian G (STDW) datang mempertanyakan ke petugas kasir perihal biaya perawatanku selama 3 hari di RS. Jawaban pihak kasir kepada G, biaya yang harus dibayar sebesar Rp.75.000,-.

Pukul 12.30 WIB,  
AS dan Wd datang mengabarkan kepadaku kalau soal biaya RS ada pada tanggungjawab L (FDPY) karena hasil rapat memutuskan kalau semua dana dari donator menjadi tanggungjawab L.
Konon para donator adalah Romo Mangun (budayawan), Mochtar Masud (dosen UGM), Emha Ainun Nadjib (sastrawan), Nur Ismanto (LBH Yogyakarta) dan entah siapa lagi.

Pukul 05.10 WIB,  
JH datang sendirian. JH menyampaikan curahan opininya kepadaku. Menurutnya, “Banyak aktifis mahasiswa yang ‘salah jalan’ yang menganggap organisasi pergerakan untuk ajang mencari pacar dan ‘arena pojok’. Hal ini dapat dibuktikan misalnya Ync menggaet Wd, atau AP aktivis ITB insiden 5 Agustus yang menggaet Sbr, dan seterusnya.
Pukul 19.10 WIB,  
L, Nty, AL,HT, HN,AES dan I datang menjenguk dan sekaligus L melunasi biaya perawatanku di RS.

Pukul 19.45 WIB,  
Good Bye RS Bethesda. Sesampai di luar gedung RS, L beri duit kepadaku melalui HN untuk ongkos taxi. HN ajak saya ke LASKI. Di LASKI, kawan-kawan masih merapatkan barisan untuk rencana aksi solidaritas perihal penangkapan 6 mahasiswa yang mengakibatkan saya harus mengalami rawat inap di RS Bethesda. Dalam rapat itu, FJD dan Wd mengusulkan agar kawan-kawan FKMY harus turun ke jalan protes ke DPRD. Tapi mayoritas kawan lainnya tidak setuju dengan saran FJD dan Wd. Mereka kebanyakan mengusulkan cukup mendatangi DPRD menyampaikan statement saja tanpa melalui arakan aksi turun ke jalan. Kawan-kawan FDPY yang dipelopori Rnd justru menganggap kawan-kawan FKMY di bawah komando SB semangat militansinya menjadi impoten. Menurut SB, kasus yang menimpaku cukup disikapi lewat statement saja, sebab FKMY mempunyai rencana yang lebih besar ketimbang kasus yang menimpa saya, yaitu mengkondisikan aksi solidaritas kepada para petani di Cilacap yang kini mengalami keresahan akibat pembebasan lahan tanah tanpa ganti rugi.

Pukul 20.10 WIB,  
SgBh datang ke LASKI. Dia meminta maaf kepadaku karena tidak dapat meluangkan waktu membesuk saya. Dalam kasus yang menimpaku, SgBh berpendapat inilah wajah asli kekuasaan Orde Baru yang serba fasis militeristik dalam menyelesaikan setiap perkaranya.

Pukul  23.00 WIB, 
kami bertiga (HN dan HT) meninggalkan LASKI menuju kediaman Mnd. Ternyata banyak kawan UJB sedang merapatkan barisan untuk rencana aksi tanggal 27 Oktober di kampus UJB menuntut kepada Yayasan agar segera menentukan dan mengangkat jabatan Rektor secara definitive. Menurut kawan-kawan, Jayeng Sugito tidak layak secara definitive menjadi Rektor sementara. Alasannya, Rektor untuk Perguruan Tinggi S-1 wajib bersarjanakan S-2. Sedangkan Jayeng Sugito hanya lulusan Sarjana S-1. Rapat ini dipimpin oleh FJD. 20 menit kemudian beberapa intel dari polresta mendatangi kediaman Mnd. Saya segera disembunyikan kawan-kawan dikamarnya Mnd. Tujuan para intel Polresta datang ke kediaman Mnd menanyakan kepastian apakah rapat perkumpulan ini untuk menyikapi insiden 22 Oktober? Secara spontan kawan-kawan menjawab:”Tidak!” FJD menjelaskan kepada salah satu intel Polresta bahwa rapat perkumpulan ini hanya membahas persoalan internal kampus UJB dan tidak ada relevansinya dengan insiden 22 Oktober.


Salam,

Joe Hoo Gi


Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *