BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Selasa, 22 Oktober 2013

Menolak Lie Peng Sebagai Wujud Solidaritas Tiananmen Berdarah


Maksud dari tulisan saya berjudul Menolak Lie Peng Sebagai Wujud Solidaritas Tiananmen Berdarah hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 26 tahun yang silam betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an banyak mengalami terjal rintangan, penuh tantangan dan resiko yang harus diambil sebagai pilihan demi  untuk sebuah masa depan negeri yang lebih bermartabat, beradab dan demokratis sesuai amanat dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya. Semua nama aktivis yang terlibat dalam serangkaian peristiwa di sini saya samarkan cukup dengan inisialnya saja untuk menghindari segala kemungkinan ketersinggungan akibat dari kronologis peristiwa yang saya tulis apa adanya ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.


Jum'at, 3 Agustus 1990
Ada kepastian rencana 7 Agustus Perdana Menteri China, Lie Peng mengadakan kunjungan ke pemerintah Indonesia dalam rangka persiapan mengadakan hubungan diplomatik kembali dengan Indonesia. Sudah 23 tahun Pemerintah Indonesia di bawah rezim Orde Baru memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah China, menurut versi rezim Orde Baru pemutusan hubungan diplomatik ini disebabkan adanya indikasi dan peranan penuh keterlibatan Pemerintah China mensupport PKI dalam Gerakan 30 September.

Tapi jika versi Pemerintah Orde Baru ini benar, mengapa justru ada rencana dari kedua Negara antara Indonesia dan China untuk menjalin hubungan diplomatik? Di satu sisi, rezim Orde Baru dari awal hingga kini tetap menempatkan PKI dan pemikiran-pemikiran yang mengandung Marxisme/Lenninisme/Maoisme sebagai tindakan kejahatan subversib. Tapi di sisi lain, justru Pemerintah Indonesia akan menjalin hubungan diplomatik kembali dengan China yang notabene dianggap sebagai Negara yang mempunyai peranan penuh mensupport PKI dalam Gerakan 30 September-nya. Terlepas dari luka-luka di masa lalu, tapi untuk sekarang ini masyarakat internasional telah dikejutkan dengan pembantaian kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim komunis China di bawah komando Perdana Menteri China,Lie Peng kepada aksi para mahasiswa pro demokrasi di lapangan Tian Nan Men. Aksi protes damai oleh para anak bangsa di China justru disikapi oleh Pemerintah China sebagai kejahatan makar yang harus dibunuh tanpa peradilan. Kekejaman Pemerintah China membantai bangsanya sendiri inilah yang menjadi alasan krusial bahwa rencana Pemerintah Indonesia untuk menjalin hubungan diplomatik dengan China harus segera dibatalkan. Kehadiran Perdana Menteri China, Lie Peng yang rencananya akan berkunjung ke Indonesia segera harus dibatalkan.

Dari tolok pemikiran ini lah kawan-kawan FKMY berencana mengadakan aksi turun ke jalan memprotes sikap Pemerintah Indonesia yang rencananya bersedia mengadakan hubungan diplomatik dengan China padahal masyarakat internasional untuk sekarang ini sedang mengutuk dan mengecam keras tindakan brutal, barbarian dan vandalism China dalam menghadapi aksi mahasiswa China. Tidak ada alasan menjalin hubungan diplomatik dengan Negara yang betul-betul teruji sebagai Negara otoriter anti kemanusiaan. Lie Peng harus diusir dari Indonesia.

Senja hari pukul 18.30 saya menghadiri rapat kawan-kawan FKMY yang berlangsung di sekretariatan Fakultas Filsafat UGM. Rapat ini membahas persiapan tekhnis kawan-kawan mengadakan aksi turun ke jalan memprotes kehadiran Lie Peng ke Indonesia dan meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk membatalkan persiapan hubungan diplomatik dengan Pemerintah China. Ada perbedaan pendapat di antara kedua kawan saya dalam melihat China. Menurut Yl yang menjadi standard pengecamannya kepada China adalah tindakan negara yang anti demokrasi/HAM, bukan China sebagai negara komunis an-sich. Alasan Yl, Indonesia di bawah rezim Orde Baru yang anti komunis pun ternyata juga anti demokrasi/HAM dan tiada beda dengan pemerintah China. Sedangkan Menurut Bs yang menjadi standard pengecamannya kepada China adalah sistemik Negara Komunis. Alasan Bs, di mana-mana yang namanya Negara bersistemik Komunis pasti anti demokrasi/HAM. Ternyata Bs masih terjangkit virus doktrinasi Orde Baru selama 23 tahun, sehingga phobia komunis tetap terbentuk dipikirannya. Gagasan Bs ditolak oleh AS. Sikapnya sama dengan Yl. Perdebatan terus mewarnai di antara kawan-kawan hingga waktu menunjukkan pukul 23.15 WIB.

Hasil keputusan rapat ditetapkan:
1. Aksi penolakan kunjungan PM China, Lie Peng ke Indonesia akan diselenggarakan 8 Agustus, Rabu pagi, berkumpul di gelanggang UGM. dilanjutkan aksi turun ke jalan menuju Kantor Pos Cabang Gejayan untuk menyampaikan statement lewat pos kepada Ketua DPR Pusat.
2. Saya ditunjuk sebagai komandan lapangan
3. Komandan regu untuk masing-masing perguruan tinggi di bawah kendali Hnd (UII), Jpk (ISI), AH (IAIN Suka), Ags (UMY) dan Ag (UGM).
4. JT ditunjuk sebagai Bendahara.
5.  Rnd (FDPY) ditunjuk sebagai Sosialisasi Aksi.

Rabu,8 Agustus 1990

Pukul 09.30 WIB, 
Kawan-kawan peserta aksi sudah  berkumpul memadati Boulevard UGM. Masing-masing kawan sudah siap dengan poster dan spanduk aksi. Sebelum aksi turun ke jalan, diadakan mimbar bebas yang hanya berlangsung 20 menit. Mimbar bebas diawali dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa yang dipandu oleh kawan Jpk.

Sebagai komandan lapangan, saya mendapatkan kesempatan orasi selama 15 menit. Saya jelaskan kepada semua kawan, "Perlawanan kita adalah perlawanan terhadap setiap bentuk penindasan. Kalaupun hari ini kita melakukan aksi menolak kehadiran Lie Peng ke Indonesia bukan berarti kita menutup mata terhadap corat-marutnya kondisi Demokrasi/HAM yang terjadi di Indonesia. Bagi kita persoalan Demokrasi/HAM yang terjadi di China juga teralami juga di negeri sendiri. Lie Peng dan Soeharto sama saja sebagai rezim fasis otoriter. Tapi berhubung yang akan hadir ke Indonesia adalah Lie Peng maka penolakan kita kepada Lie Peng sebagai wujud solidaritas kita kepada nasib ratusan kawan-kawan mahasiswa di China yang mati sebagai martir akibat represifnya rezim China dalam menghadapi setiap aspirasi rakyatnya." 
Ketika saya berorasi mendadak Arief Budiman, dosen UKSW Salatiga turut bergabung dan berada di tengah kerumunan dan kawan-kawan peserta aksi. Dia mensupport langkah aksi kita. Hanya saja dalam aksi turun ke jalan, Arief Budiman tidak turut bergabung bersama kami. Faktor level usia yang mungkin menjadi kendala Arief Budiman tidak dapat bergabung untuk aksi turun ke jalan.


Pukul 10.30 WIB,
Semua kawan sudah memulai untuk aksi turun ke jalan. Barisan diikat dengan tali rafia agar barisan dapat tertib dalam kesatuan barisan. Start aksi dimulai dari Boulevard UGM menuju Kantor Pos Cabang Gejayan. Sepanjang jalan kawan-kawan serempak menyanyikan Maju Tak Gentar.

Pukul 10.55 WIB, 
Rombongan aksi sudah sampai di depan halaman Kantor Pos Cabang Gejayan. Saya membacakan statement sebanyak 3 halaman kwarto. Surat Pernyataan Sikap atas nama FKMY yang ditujukan kepada Ketua DPR Pusat di Jakarta. Baru membacakan 2 halaman, saya mengalami keparauan suara, sehingga sisa halaman statement diambil alih oleh kawan Yl untuk dibacakan kembali. Setelah statement habis dibacakan Yl lantas dimasukkan ke dalam amplop kembali kemudian diserahkan dan diterima oleh pihak Kepala Kantor Pos cabang Gejayan untuk diteruskan kepada Ketua DPR Pusat di Jakarta.

Pukul 11.30 WIB, 
Kami membubarkan diri.


Salam,
Joe Hoo Gi 

Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *