Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Kamis, 31 Oktober 2013

Badran Di Tengah Malam Hari

temon namanya
bocah lanang belasan tahun
yang tidak mengenal sekolah
yang tidak punya satu bapak
kecuali seribu bapak
yang tidak kenal tuhan
kecuali harapan 
bagaimana agar bisa makan.


temon namanya
bocah lanang belasan tahun
hanya mempunyai seorang ibu
lonte keriput pinggiran jalan
menjajakan memek 
susu kendur bak kates 
dan mulut siap kulum 
hanya demi sesuap nasi 
sebungkus rokok kretek 
dan bedak gincu murahan.

temon namanya
bocah lanang belasan tahun
terlalu dini disebut preman
meski mengais makan
lewat memalak dan mencopet
sementara ibunya hanya pasrah
menyerahkan nasibnya
kepada apa dan siapa.

temon namanya 
bocah lanang belasan tahun
adalah potret kemelaratan anak bangsa
di tengah para pejabatnya
yang kaya-raya.


5 mei 1988

(Puisi berjudul Badran Di Tengah Malam Hari ini pernah dihargai sebagai juara pertama dalam acara Lomba Menulis dan Membaca Puisi untuk memperingati Dies Natalis XXXIII Universitas Janabadra Yogyakarta, Oktober 1991)


Salam,
Joe Hoo Gi



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *