Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Minggu, 23 Februari 2014

Efektifitas Berkampanye Melalui Media Sosial


Sejak kewilayahan internet berjamur media sosial dan terbukti media sosial menjadi trend pilihan gaul kehidupan anak bangsa Indonesia tanpa memandang strata pendidikan, usia dan pekerjaan, maka saya sudah banyak memberi pesan kepada sebagian dari anak bangsa kita yang ingin mendapatkan nilai tambah kepopularitasnya, atau mengharap pesan-pesannya dapat didengar dan menggalang pengikut dengan memanfaatkan ikatan emosional,  atau ingin menambah banyak pertemanan tanpa batas agar segera memanfaatkan media sosial sebagai salah satu target alternatif jalan keluar.


Tentunya bagi para calon yang kesuksesannya ditentukan oleh keterlibatan suara masyarakat dalam pemilihan umum, seperti calon legislative, calon Kepala Daerah dan calon Presiden, maka berkampanye sejak dini melalui efektifitas media sosial dapat segera diperkenalkan dan dipublikasikan ke khalayak. Dari media sosial inilah khayalak dapat langsung berkenalan dan menemukan profil calon pilihannya. Apa lagi jika calon pilihannya sedang online, maka tentunya jalur chatting dan video call dapat langsung dimanfaatkan.

Secara real dan empiris, efektifitas media sosial bagi para penggunanya dapat menemui target dari harapan menjadi kenyataan asalkan dilakukan secara dini. Misal seorang calon legislative berharap agar pada Pemilu nanti perolehan kuota suaranya sesuai dengan ketentuan yang diterapkan oleh KPU, jika dia mau melakukan kampanye secara on line lewat media sosial maka agar kampanyenya betul-betul efektif sesuai target maka dia harus memperhatikan efektifitas waktu. Seberapa lama dia berkampanye melalui media sosial, maka 'seberapa lama' inilah yang menentukan efektif atau tidaknya media sosial. Semakin lama dia memanfaatkan jalur media sosial sebagai wadah kampanyenya, maka semakin efektifitasnya media sosial  untuk dirinya. 


Saya punya dua kawan yang sama-sama tampil sebagai calon legislative. Kawan saya yang pertama tampil berkampanye di media sosial sudah ada satu tahun. Kemudian dua bulan sebelum Pemilu Calon Legislative digelar, kawan saya yang kedua buru-buru ingin berkampanye lewat media sosial. Tentunya saya berani bertaruh, siapa di antara kedua kawan saya ini yang betul-betul memperoleh suara secara signifikan, tentunya kawan saya yang pertama. 

Idealnya, apalagi jika semua akun media sosial dimanfaatkan semua. Tidak hanya sampai pada media sosial, sangat lebih ideal dan efektif jika sang pengguna memiliki website atau blog sendiri, maka lengkaplah sudah upaya 'pencitraan' yang dilakukan. 

Sudah saatnya jalur media sosial dapat dioptimalkan sebagai kampanye secara dini ketimbang melalui jalur kampanye model konvensional yang memakan cost yang sangat mahal. Apa lagi sekarang kemacetan lalu lintas terjadi di sana-sini, tentunya dengan berkampanye via media sosial dapat mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan raya. Belum lagi kampanye model konvensional selalu tidak terlepas dari kejadian tawuran massal akibat gesekan dari kontestan yang berbeda antar partai politik. 


[Pesan saya ini pernah saya sampaikan kepada puluhan caleg PKPI dalam acara Rakoor Pembekalan Caleg Dapil Jawa Tengah di Kota Salatiga, 20 Desember 2013]


Salam,
Joe Hoo Gi


Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *