BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Sabtu, 01 Februari 2014

Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Dua)

Tulisan yang bertajuk Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Dua) yang berlangsung di Lembang, Bandung ini merupakan sambungan dari kelanjutan tulisan berjudul Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Satu) yang berlangsung di Kaliurang, Yogyakarta. Kepada semua pihak yang belum sempat membaca dan ingin mengetahui postingan tulisan saya berjudul Mengenang Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa Era 1990-an se-Jawa, Se-Bali dan Se-Mataram (Jilid Satu) dapat diklik di sini.

Maksud dari postingan dua serial tulisan saya ini hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 23 tahun yang silam betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an banyak mengalami terjal rintangan, penuh tantangan dan resiko yang harus diambil sebagai pilihan demi  untuk sebuah masa depan negeri yang lebih bermartabat, beradab dan demokratis sesuai amanat dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya. Semua nama aktivis yang terlibat dalam serangkaian peristiwa di sini saya samarkan cukup dengan inisialnya saja untuk menghindari segala kemungkinan ketersinggungan akibat dari kronologis peristiwa yang saya tulis apa adanya ini.


Minggu,12 September 1993


Pukul 10.00 WIB, 
Aku dan OR berangkat ke stasiun Lempuyangan, sebelumnya breakfast ke RM Padang. Di stasiun sudah ngumpul kawan-kawan: AS, Syf, Iph, HW, HS, BS, At, Bb dan Rid. Rencananya kami perwakilan Yogyakarta akan menghadiri Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an se-Jawa, se-Bali dan se-Mataram (Jilid Dua) di Lembang.

Pukul 11.30 WIB, 
Kereta Api jurusan ke Bandung sudah mulai mendarat. Kami sengaja duduk di gerbong paling belakang. Alasannya, faktor tahu diri saja. Tidak satu pun kami membawa karcis alias penumpang gelap. AS dan Syf berusaha menyuap petugas. Alhasilnya, petugas menerima uang hasil suap. Model suap menyuap begini jelas saya pribadi tidak setuju. Di satu sisi kita kritik habis-habisan mental corupt para pejabat Orde Baru, tapi di sisi lain kita menanamkan embrio corupt dalam diri kita. Apalagi kondisi kita masih dirasa mampu sebab Syf membawa dana organisasi sebesar R.50.000,- yang merupakan donasi dari LSM dan public figur perorangan ketika aksi Haur Koneng sebulan lalu.

Pukul 20.30 WIB, 
Kereta sudah mendarat di stasiun Bandung. Kami dijemput dan langsung meluncur ke tempatnya Dnl di jalan Aceh. Di rumahnya Dnl banyak kawan sudah berkumpul dan asyik berpesta menghisap lintingan tembakau asal Aceh. Ternyata tembakau asal Aceh ini kepunyaannya Bb. Wow! ternyata diam-diam Bb dari Jogja sudah mempersiapkan segalanya. "Tapi ini bukan tiujuan kita ke sini, ini refresh," dalihnya.

Pukul 11.00 WIB, 
PLL dan Fer memberitahukan kepada kami untuk pindah dari jalan Aceh ke rumahnya Itm jalan Ciroyom.
Hingga tengah malam tiba belum ada agenda apa-apa untuk hari ini.

Pukul 01.20 WIBTidur. 

Senin, 13 September 1993 

Pagi Pukul 09.30 WIB, 
Kami diajak PLL ke Unpad. Kami breakfast di kantin.

Pukul 12.30 WIB, 
Saya diajak OR ke temannya se-Bangka. Kemudian mampir ke adiknya, tapi tidak bisa bertemu sebab adiknya tidak ada di kamar kostnya.

Pukul 14.00 WIB, 
Kami berangkat ke Lembang, naik angkot. Jarak ditempuh hanya 30 menit, mirip Jogja ke Kaliurang. Tempat pertemuan aktivis di wisma yang bersebelahan dengan asrama militer ajudan Presiden. Ada insiden kecil sesama kawan sendiri, Iph dan OR lagi-lagi crash. Hanya saja Iph kali ini tidak seperti biasanya, lebih pada mengalah dan diam. Ketika Iph sedang crash dengan OR, Iph memendam dalam diam di pojok kamar dan sempat mogok makan sebagai bentuk protesnya kepada OR.

Pukul 18.30 WIB, Acara Pertemuan Aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an se-Jawa, se-Bali dan se-Mataram digelar di bal;ai aula. Lagi-lagi sikap spontan yang tidak menarik dan memalukan dari Bb yang mengentut sejadi-jadinya menggelegar ketika forum dimulai. Bb berdalih bahwa suara boom kentut itu sebagai pengganti ketuk palu bahwa acara resmi telah dibuka. MA, AeB dan BBS (eks tapol) datang terlambat. Forum ini oleh PLL sebagai Ketua Panitia memang dikondisikan tidak ada jarak antara mahasiswa, pemuda dan pasca mahasiswa sebab pada dasarnya visi misi kita sama: Perubahan Tanpa Orde Baru. Kondisi ini berbeda bila saya bandingkan dengan acara Jumpa Aktifis sejawa, Bali dan Lombok yang berlangsung di Kaliurang di mana kawan-kawan DMPY membuat jarak antara mahasiswa  dan pasca mahasiswa. Saya tidak setuju kawan-kawan DMPY membuat jarak antara mahasiswa dan pasca mahasiswa sebab mudah terjebak ke arah kelas antara senioritas dan yunioritas. Apalagi istilah pasca mahasiswa yang sering digulirkan dalam forum pertemuan aktivis di Lembang dan Kaliurang memang kontradiksi dengan fakta yang ada. Saya melihat sendiri apa yang disebut sebagai pasca mahasiswa, kenyataannya masih sebagai mahasiswa. Bahkan ironinya peserta yang hadir sebagai stigma pasca mahasiswa ternyata hanya dua orang saja, yaitu BBS dan OR yang memang sudah sarjana.Sedangkan yang lainnya masih berstatus mahasiwa karena memang belum diwisuda. Kawan PLL sebagai koordinator acara sepakat, "Tidak ada perbedaan jarak di sini antara yasng disebut pasca mahasiswa dengan mahasiswa."

Acara Jumpa Aktivis Gerakan Mahasiswa era 1990-an se-Jawa, se-Bali dan se-Mataram yang berlangsung di lembang ini ternyata jauh dari target harapan. Apa yang disebut se-Jawa ternyata perwakilan dari Jawa Timur tidak ada yang hadir. Tidak Ada satu pun perwakilan dari Bali Dan Lombok. Menurut PLL, kawan-kawan yang absent dalam pertemuan ini khususnya kawan-kawan dari perwakilan Malang, Surabaya, Solo dan Purwokerto telah memberi kata sepakat dengan keputusan yang diambil pada forum pertemuan ini.

Dalam forum malam ini tampaknya forum dikuasai sepenuhnya oleh kawan-kawan dari DMPY. Hampir kawan-kawan perwakilan dari tiap-tiap kota memilih diam atau menjadi pendengar setia. Syf sebagai corong DMPY memberikan ketegasan sikapnya kepada PLL sebagai 'tuan rumah' bahwa di Yogyakarta pada kenyataannya ada dua faksi gerakan mahasiswa, yaitu DMPY dan SMY. Ditambahkan lagi oleh Syf bahwa sampai detik ini DMPY tidak bisa menerima kawan-kawan dari SMY sehingga tidak lah mungkin kami duduk bersama dalam satu forum. Syf melanjutkan lagi, jika nantinya kawan-kawan dari SMY hadir mengisi di forum ini maka sikap kawan-kawan DMPY akan bersikap diam dan bila perlu walkout. Syf pada penutupnya menegaskan kepada PLL, mau pilih Jogjakarta dari perwakilan DMPY ataukah SMY? Mendengar tuntutaan kawan Syf ini, PLL mengalami dilematis.Tapi PLL akhirnya buka suara dengan menjawab bahwa sebagai tuan rumah kami harus adil dan bijak. Perbedaan adalah rahmat sebab pada dasarnya komitmen dari visi misi kawan-kawan DMPY dan SMY adalah sama yaitu Perubahan Tanpa Orde Baru

Pukul 23.00 WIB, 
Ada rapat internal di kalangan kawan-kawan DMPY. Rapat ini membicarakan agenda yang harus dikritisi oleh kawan-kawan DMPY untuk pertemuan besok pagi. Hm, betapa tidak menariknya rapat ini sebab ternyata telah menunjukkan ketidaksiapan kawan-kawan terutama Syf yang berandai jika besok ada presentase perwakilan dari tiap-tiap kota yang membicarakan formatur gerakan mahasiswa era 90-an dan kesepakatan FORKOM (bukan FORKOMM) sebagai kesekretariatan bersama sebagai wadah komunikasi tingkat nasional serta kemungkinan tak terduga seperti usulan membentuk partai politik dan lain-lain. Menjelang malam semakin larut ketika kawan-kawan sudah lelap dengan mimpinya masing-masing, Iph sejak pukul 01.30 WIB hingga 04.00 WIB mojok berdua bersama Hn.Tidak ketinggalan AeB juga mojok meredam dinginnya Lembang.
   
Pukul 04.15 WIB, 
Kedua mataku betul-betul tidak bisa diajak kompromi. Ngantuk berat. Saya lelap tidur.

Selasa, 14 September 2014 

Aku bangun lebih awal.Tidurku terasa tidak bisa nyenyak. Tampak YRD datang menyusul dalam acara pertemuan ini. Pukul 09.00 forum petrtemuan dimulai. Beberapa menit kemudian kawan-kawan DMPY resah dengan kehadiran AM sebagai perwakilam SMY. Akibat kehadiran AM yang mewakili SMY, kawan-kawan dari perwakilan DMPY satu persatu keluar dari ruangan. Akibat kawan-kawan perwakilan DMPY walkout, forum pertemuan akhirnya diundur dan dialihkan makan siang. Saya dan Iph tidak setuju dengan sikap kawan-kawan DMPY yasng melakukan walkout dengan alasan kehadiran AM yang mewakili SMY. Apa yang 'salah' dari kawan-kawan SMY? Bagaimanapun perbedaan adalah kerakhmatan tapi DMPY tampaknya belum siap dengan perbedaan ideologis SMY. Kejadian walkout oleh kawan-kawan DMPY juga disesalkan oleh AM.

FORKOM yang dibentuk di Kaliurang ternyata sudah tidak dipakai lagi dan diganti dengan FORKOMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pemuda Indonesia). FORKOMPI merupakan ide usulan dari YRD yang disepakati peserta forum. Dibentuknya FORKOMPI tanpa harus hadirnya kawan-kawan DMPY telah membuat kawan-kawan DMPY menjadi tersinggung. 

Menurut AS dan Syf, FORKOM merupakan sekretariat bersama sebagai wadah komunikasi tingkat nasional yang sudah disepakati di kaliurang, tapi mengapa justru dimentahkan lagi dan diganti dengan FORKOMPI? Penambahan aksara 'P' dan 'I' dianggap perubahan yang fundamental pada FORKOM. Menurutku penambahan huruf 'P' dan 'I' justru merupakan penyempurnaan pada kata FORKOM; Penambahan itu justru makna pemuda mendapat kepastian dalam peranannya. Bukankah penambahan aksara 'P' itu justru aspirasi DMPY mendapat posisi yang istimewa di kalangan peserta forum yang hadir di sini? kalau tidak ada unsur aksara 'P' maka posisi terbentuknya DMPY akan menjadi absurd. Sekali lagi menurut pendapatku, ada kekeliruan fataal pada pembentukan FORKOM di Kaliurang. Kawan-kawan DMPY sebagai tuan rumah penyelenggara pertemuan aktivis gerakan mahasiswa di Kaliurang justru tidak protes terhadap pembentukan FORKOM, tapi malah menyetujuinya. Seolah-olah dengan adanya FORKOM maka disadari atau tidak kawan-kawan DMPY hendak memenggal kepalanya sendiri. Selain itu pembentukan FORKOMPI tanpa melibatkan kawan-kawan DMPY, saya anggap merupakan kesalahan kawan-kawan DMPY yang telah memilih walkout. Sore mendekati senja saya dan Iph berdiskusi dengan AM hingga malam menjelang. Diskusi hanya pada persoalan di seputar perpecahan FKMY hingga terbentuknya dua faksi, DMPY dan SMY.

Rabu, 15 September 1993

Pagi setelah usai breakfast dan sebelum acara pertemuan diberlangsungkan, AS melakukan aksi improv berupa puisi spontanitas di lapangan basket 15 meter dari aula tempat pertemuan diberlangsungkan.

kawan-kawan 
di lapangan basket ini
telah mengingatkan saya
pada peristiwa 5 Agustus 1989
beberapa kawan ditangkap
diadili dan dipenjara
tapi setelah mereka bebas
mereka berlomba
mencari kedudukan
di kursi-kursi 
milik penguasa Orde baru

Aku rasa AS improvnya tidak mengenai sasaran sebab puisi tersebut jelas untuk kawan-kawan ITB, sementara kawan-kawan yang hadir di sini tidak ada yang alumni ITB. Mungkin yang dimaksud AS adalah kritik kepada kawan-kawan yang hadir yang memiliki kecenderungan yang sama dengan kawan-kawan eks ITB. 

Siang ini merupakan acara kahir jadwal pertemuan aktivis se-Jawa, Bali dan Lombok. Sebelum acara pertemuan dimulai, Bb tampil membacakan pusinya Widji Thukul, hanya saja makna dari puisi tersebut tidak ada relevansinya dengan pertemuan ini. Aku, OR dan Iph tampil menyanyikan lagunya Black Brothers, Hari Kiamat.

Sebelum PLL memberikan sambutan salam perpisahan, mendadak di luar aula ada seorang lelaki misterius yang sekujur kulitnya diberti cat merah menandakan darah, pipinya dipoles bedak putih yang diibaratkan sebagai mayat yang pucat, bertelanjang dada hanya dibalut dengan kain sprai putih yang menyerupai seorang lelaki tua bersorban putih, tangan kirinya membawa kemenyan menyala dan berjalan berlahan-lahan memasuki aula. Sembari memasuki aula, mulutnya spontan menyuarakan sebaris puisi yang diulang terus menerus.

sawah-sawahku hilang
diganti ranjang-ranjang kelas atas

Setelah aku amati terus ternyata lelaki itu tiada lain Nls. Sprei putih yang dibawa Nls mengingatkan saya pada kejadian tadi pagi. Mendadak sprei putih lenyap dari kamar tidur. Kawan-kawan tidak tahu siapa yang mengambil sprei putih yang sejak awal terpasang di ranjang tapi mendadak lenyap. Setelah penampilan Nls, saya pun tampil membacakan puisiku berjudul Kawan Lawan (klik disini untuk membacanya).

Besok pagi rencannya FORKOMPI melakukan aksi ke DPRD menolak berlakunya Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya. Saya dan kawan-kawan DMPY rencananya akan bergabung dengan kawan-kawan FORKOMPI.


Salam,
Joe Hoo Gi 

 
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *