BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Sabtu, 31 Oktober 2015

Kepahlawanan Njoto Kandas Di Tengah Amuk Anak Bangsanya Sendiri


Begitu sangat disesalkan jika perjuangan dan pemikiran dari seorang anak bangsa sendiri bernama Kusumo Digdoyo yang kemudian dikenal dengan nama Njoto yang lahir di Bondowoso 17 januari 1927 justru kiprah jasa-jasa kepeduliannya untuk masa depan bangsa dan negara sampai sekarang namanya telah dieliminasikan dari buku-buku sejarah resmi. 


Perjuangannya anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme sungguh tidak diragukan lagi, bahkan pasca kemerdekaan pun Njoto tetap terlibat aktif dengan pemuda yang lain merebut senjata Jepang dan ikut terlibat mempertahankan kota Surabaya dari serangan Sekutu. Tapi kiprah jasa-jasa kepeduliannya untuk masa depan bangsa dan negara kemudian dipangkas, diingkari dan dihapus secara sekejap oleh Negara di bawah kekuasaan rezim Orde Baru hanya karena Kusumo Digdoyo alias Njoto pernah berkiprah aktif sebagai anggota Politbiro ketika PKI di bawah kepemimpinan Muso dan sebagai Wakil Ketua II Comite Central PKI pada masa Demokrasi Terpimpin. 

Terlepas dari apa, bagaimana dan siapa PKI itu, yang jelas PKI yang menjadi sandaran kendaraan politik Njoto pada waktu itu bukan sebagai partai terlarang dan keberadaannya dipayungi oleh hukum negara waktu itu. Lantas apakah perjuangan kepahlawanan Njoto dengan begitu mudah dihapus dalam sekejab hanya karena dia memilih PKI sebagai sandaran kendaraan partai politiknya atau di masa kecil Njoto sudah gemar membaca buku-buku filsafat dunia karya Karl marx dan Lennin? 

Sedemikian dengan Buku berjudul Marxisme Sebagai Ilmu Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis dan Sosialisme Indonesia yang diterbitkan pertamakali Desember 1962 oleh Harian Rakyat yang merupakan kumpulan mata kuliah yang ditulis dan sekaligus disampaikan Njoto di Universitas Rakyat dan Universitas Indonesia juga turut pula dilenyapkan. Dengan seiring perkembangan waktu pasca Mei 1998 atau tepatnya pada tahun 2003, buku
Marxisme Sebagai Ilmu Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis dan Sosialisme Indonesia diterbitkan kembali oleh Teplok Press. Sampai sekarang tidak jelas apa yang menjadi alasan pemerintah Orde Baru melenyapkan buku Marxisme Sebagai Ilmu Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis dan Sosialisme Indonesia? Padahal dalam buku tersebut yang dimaksud dengan Marxisme sebagai ilmu filsafat proletariat tidak ubahnya dengan versi pemahaman Marxisme menurut Bung Karno yaitu Sosialisme yang memegang kejatidirian khas ala Indonesia yang berpegang pada konsep Ketuhanan dan Nasionalisme.

Sejarah pun menuliskan dalam tintanya bahwa Njoto pernah berjuang mempertahankan Pancasila dari serangan partai islam yang mencita-citakan Indonesia menjadi negara yang berlandaskan syarikat Islam. Selain Roeslan Abdulgani dan Soebandrio, Njoto juga salah satu penulis naskah Bung Karno. Njoto pun pernah menjadi Menteri Dalam Negeri, tapi ketika terjadi peristiwa 30 September 1965 maka pada Desember 1965 tanpa proses peradilan Njoto dituduh terlibat peristiwa 30 September 1965. Njoto kemudian diculik, disiksa, dibunuh dan meninggal oleh atas nama Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto. 

Kematian Njoto tidak diketahui.Dalam tulisan Harsutedjo bertanggal 5 Agustus 2005 yang sudah disiarkan berbagai mailing list mengungkapkan Menteri Dalam Negeri bernama Njoto dibunuh atas perintah Jenderal Soemitro sebagai Pembantu Jenderal Soeharto dengan jabatan Asisten Operasi Menpangad.
 
Tidak sampai di situ, istri Njoto, Soetarni Soemosoetargijo yang dalam kondisi hamil besar dan anak-anak kandungnya yang masih balita atau kanak-kanak atau di bawah umur pun turut diperlakukan biadab atas nama Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto. 


Tulisan dalam bentuk puisi berjudul Kodim 1966 yang merupakan surat curahan hati dari Indah Svetlana Dayani alias Iramani, anak kandung Njoto, ketika dalam perlakuan ketidakmanusiawian Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto

Kompleks itu bernama Kodim
Aku tak tahu, 
apakah memang begitu itu namanya. 
Tapi begitulah orang-orang besar 
di sekitarku dulu menyebutnya. 
Aku tak tahu di mana letak persis tempat itu. 
Tapi di dalamnya ada banyak ruang 
dan jika ingatanku tak salah merekam 
halamannya cukup luas untuk bermain dan berlari-larian.

Kompleks itu bernama Kodim  
Meskipun kadang ragu, 
aku merasa pasti bahwa begitulah tempat itu disebut. 
Ia tak cuma akrab di telingaku, 
tapi juga melekat rapat dalam ingatanku. 
Setiap siang kami melompat kegirangan, 
bila ransum makan diantarkan. 
Tanpa dikomando kami segera menggelosor ke lantai 
mengitari rantang berisi santap siang 
dengan air liur tak tertahankan. 
Tangan-tangan kecil kami 
tumpang-tindih berseliweran, 
menggapai rantang bersusun empat 
yang sudah terburai-cerai berserakan 
di atas lantai. 
Rantang-rantang itu nampak pasrah saja 
ketika manusia-manusia kecil di sekelilingnya 
berisik sahut-menyahut: tertawa, merengek, 
kecewa, saling ledek, dan entah apa lagi. 
Aku tak ingat siapa yang sering jadi juara 
dalam kompetisi seru itu, 
juga tak pernah ingat 
apakah aku cukup banyak makan dan merasa puas 
setelah upacara rutin perebutan dilakukan.
 
Kompleks itu bernama Kodim
Malam hari kami berjejal di sebuah ruang, 
berceloteh bersama dan bernyanyi riang. 
Jika kami lelah, 
Mama mendendangkan beberapa lagu 
atau mendongeng beberapa cerita
yang itu-itu juga. 
Ia hafal banyak lagu, 
tapi seingatku paling sering mendendang ninabobo. 
Entahlah, apakah aku pernah merasa bosan 
mendengar dongengnya. 
Juga entah pada lagu atau dongeng keberapa 
biasanya aku terlelap di sampingnya.

Kompleks itu bernama Kodim
Ruang tempat kami berjejal itu seukuran kamar tidur. 
Di salah satu sisi dindingnya 
menempel sebentuk meja terbuat dari batu, 
selaik meja kompor di rumah kami dulu. 
Tumpukan popok dan baju bayi 
selalu teronggok di situ. 
Di ruang itu berbagai kegiatan 
senantiasa kami lakukan: 
makan, tidur, berkumpul dan bercanda. 
Tak kuingat lagi 
apa warna dinding dan pintu ruang itu, 
dan barang apa saja yang tersedia di dalamnya. 
Adakah tempat tidur dan kasur 
yang melapisi tubuh kecil kami ketika berbaring? 
Adakah lemari tempat kami menyimpan 
pakaian atau piring? 
Adakah meja tulis dan bangku-bangku 
di mana kami bisa berpanjat-panjatan? 
Adakah rak di mana buku-buku Bapak biasa disimpan?

Kompleks itu bernama Kodim
Pagi-pagi sekali 
Mama membangunkan kami untuk mandi. 
Sekeluar kami dari kamar mandi, 
biasanya orang-orang besar sudah berkerumun 
di depan jamban sempit itu. 
Ada yang jongkok ada yang berdiri. 
Mereka antri mandi. 
Seusai mandi kami bermain 
atau berjalan-jalan berkeliling kompleks. 
Aku sering melihat dan mendengar 
orang-orang besar berbisik-bisik. 
Aku tak tahu kenapa orang-orang itu senang sekali 
bercakap sambil berbisik-bisik. 
Bisikan itu ada yang sampai di telingaku, 
terdengarnya begini:
“Ada yang mati lagi! 
Ada yang mati lagi! 
Dia ditembak!”
Seraya berlari menghampiri kakak-kakakku, 
aku lalu mewartakan bisikan 
yang kudengar itu:
“Ada yang mati! 
Ada yang mati! 
Dia ditembak!!”
Suaraku lantang. 
Aku bangga bisa mengetahui 
berita itu lebih dulu ketimbang kakak-kakakku. 
Tapi Mama bergegas menghampiriku, 
dan setengah berbisik 
ia menghentikan seruanku: 
“Sssttt, anak kecil nggak baik ngomong begitu…” 
Aku lupa, 
apakah setelah itu 
aku masih mendengar bisik-bisik seperti itu. 
Aku juga lupa, 
apakah di hari-hari berikutnya 
mulut kecil lantangku 
kembali mengulang berita begitu.

Kompleks itu bernama Kodim
Siang menjelang sore, 
di suatu hari pada tanggal yang tak pasti. 
Orang-orang besar sigap menggendong 
dan bergegas memasukkan kami ke dalam mobil. 
Mobil itu besar, 
entah sejenis apa. 
Rasa-rasanya seperti jip, 
karena suaranya gagah menderu, 
membuatku merasa bangga berada di dalamnya. 
Orang-orang besar bersas-sis-sus 
berbisik sambil bergegas 
memasukkan kakak-kakak dan adikku 
satu per satu ke dalamnya. 
Ketika itu aku kanak empat tahun, 
girang alang-kepalang. 
Mereka membisikkan satu kata 
yang membangkitkan keriangan: 
tamasya!! 
Ya, tamasya!! 
Orang-orang besar itu terus berbisik satu sama lain. 
Tapi apa peduliku? 
“Hore” adalah kata yang paling tepat 
menggambarkan suasana hari itu, 
atau setidaknya begitulah yang kurasakan saat itu. 
Kami melambai-lambaikan tangan 
seraya berseru riang 
pada orang-orang besar 
berbaju loreng pun berbaju rombeng, 
yang berdiri di luar mengitari mobil kami. 
Kami akan segera meninggalkan mereka.
Ya, tempat yang baru saja kami tinggalkan itu 
bernama Kodim. 
Aku ingat sekali, 
di tempat itu kami sering bertanya 
tentang Bapak kepada Mama. 
Sepenuh sigap Mama menjawab: 
“Bapak sedang pergi jauh, 
jauuuh sekali! 
Ke luar negeri!!” 
Bagai bebek sahut-menyahut 
kami berlomba bertanya, 
beruntun berderap kejar-mengejar, 
ingin dijawab paling dulu: 
“Kapan Bapak pulang, Ma?, 
kapan Bapak pulang?
Bawa oleh-oleh, kan, Ma?
Oleh-oleh apa? 
Cokelat ya, Ma?”

Kompleks itu bernama Kodim
Aku tak tahu sejak kapan, 
bagaimana, 
mengapa, 
dan untuk apa 
kami berada di sana. 
Aku cuma ingat, 
beberapa waktu 
sebelum kami berada di tempat itu, 
kami sempat sibuk 
menyambut kedatangan Mama 
dari rumah sakit. 
Ia membopong adik terkecil kami
yang baru saja dilahirkan. 
Kata Mama, adikku itu perempuan, 
Butet namanya. 
Aku tak tahu 
kenapa nama begitu itu 
diberikan kepada adik kecilku.
Yang kutahu, 
kami semua gembira 
menyambut kelahiran dan kedatangannya, 
meskipun Bapak tak ada.

Kompleks itu bernama Kodim
Di sana kami pernah bermain, 
bernyanyi, 
menangis, 
bercanda, 
makan dan tidur bersama. 
Di sana ada Mama, 
aku, 
empat kakak 
dan dua adikku. 
Di sana ada orang-orang besar 
yang suka berbisik-bisik 
sambil menggendong dan menemani kami bermain. 
Di sana juga ada orang-orang besar 
berbaju loreng yang gemar mondar-mandir.

Kompleks itu bernama Kodim 
Di sana tak ada Bapak. 
Ia pergi jauh sekali. 
Entah kapan kembali.

Jakarta, 
sepenggal masa kecil 
ang tak lepas dari ingatan.

Semua kebiadaban atas nama Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto ini tanpa melalui proses peradilan. Kondisi biadab ini menjadikan kita terus bertanya apakah Negara Pasca Peralihan Rezim Militer Soeharto ini betul-betul mempunyai Agama, Tuhan dan Kemanusiaan? Wallahualam. Kepada kawan-kawan Blogger yang ingin membaca buku Marxisme Sebagai Ilmu Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis dan Sosialisme Indonesia dalam versi PDF nya dapat mengunduhnya di sini.
       

Salam,
Joe Hoo Gi



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *