BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Sabtu, 31 Oktober 2015

Semaoen Aktivis Buruh Pertama Di Indonesia


Awal abad ke-20, Indonesia di bawah kekuasaan Hindia Belanda saat itu telah lahir kelas proletar yang terdiri dari buruh kereta api, pegawai kantor pegadaian, buruh perkebunan, buruh pabrik gula dan sebagainya.



Kelas proletar ini sengaja diciptakan oleh kapitalisme Hindia Belanda yang membutuhkan tenaga kerja lokal yang trampil untuk bisa lebih menjarah bumi Indonesia. Tapi justru dengan bercokolnya kelas proletar ini justru menjadi boomerang bagi Hindia Belanda sendiri.

Mereka yang masuk dalam kelas proletar ini justru mendirikan serikat-serikat buruh untuk melindungi kaum buruh dari penindasan Kapitalisme Hindia Belanda sendiri. 

Tokoh yang pertama kali berada di pihak kelas proletar bernama buruh dan memandu kaum buruh agar membentuk serikat buruh sebagai perisai perlawanan terhadap kapitalisme Hindia Belanda adalah Semaoen. 

Untuk memandu kaum buruh agar dapat terbebas dari penindasan sistem kpitalisme Hindia Belanda, Semaoen menuntunnya secara detail dalam sebuah buku yang diberi judul Penuntun Kaum Buruh. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1920. Tapi sejak tragedi 1965, Penuntun Kaum Buruh telah dilarang dan dilenyapkan dari khazanah buku sejarah Indonesia. Seiring dengan perkembangan waktu pada pasca Reformasi Mei 1998, buku Penuntun Kaum Buruh diterbitkan kembali oleh penerbit Jendela (2000). Kepada kawan-kawan Blogger yang menginginkan buku dalam versi PDF nya dapat mengunduhnya di sini.


Salam,
Joe Hoo Gi



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *