BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Selasa, 24 November 2015

Bom Paris, Radikalisme dan Intropeksi



Jika serangkaian teror bom bunuh diri dianalogikan sebagai bencana air bah, maka penanggulangannya dibutuhkan sebuah jawaban dari pertanyaan mengapa bencana air bah itu bisa terjadi? Apa dan bagaimana penyebab yang telah melatarbelakangi terjadinya bencana air bah tersebut? Tegasnya, bencana air bah tidak terjadi dengan sendirinya tanpa ada peristiwa yang telah melatarbelakangi timbulnya bencana tersebut.


Tanpa ada solusi untuk mencari akar dari peristiwa yang melatarbelakangi timbulnya bencana air bah, maka solusi penanggulangannya pun akan menemui kendala. Mungkin kita bisa menambah peresapan air hujan dan memberi atau meninggikan tanggul agar terhindar dari bencana air bah. Solusi Penanggulangan tersebut jelas bersifat temporer atau sementara sebab ketika besarnya debit curah hujan sudah menutup akses peresapan dan debit air melebihi dari tingginya tanggul maka tetap saja bencana air bah akan kembali datang. Solusi penanggulangan yang permanen adalah mencari biang akar penyebab mengapa dan bagaimana terjadinya bencana air bah. Bila biang kerok akar penyebabnya adalah pembuangan sampah yang terlalu besar ke sungai sehingga akses arus sungai menjadi tidak lancar atau tersumbat, maka dibutuhkan regulasi berupa tindakan pembebasan sungai dari luapan sampah yang menyumbatnya.

Sedemikian pula dengan solusi penanggulangan agar kedamaian tetap terjaga dan terhindar dari ancaman serangkaian teror bom bunuh diri. Selama ini solusi penanggulangan terhadap serangkaian teror bom bunuh diri hanya bersifat temporer atau sementara. Misalnya ketika gedung WTC di Amerika Serikat terkena teror bom bunuh diri, lantas yang terjadi Amerika Serikat bukannya melakukan intropeksi, melainkan melakukan pembalasan dengan cara membombardir negara Afganistan yang dikuasai oleh kelompok Taliban. Tindakan bombardir oleh Amerika Serikat dan sekutunya ini justru mengakibatkan ratusan hingga ribuan rakyat sipil tak berdosa kehilangan nyawa, keluarga, tempat tinggal, cinta dan harapan. Tindakan yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya ini jelas bukan solusi penanggulangan bersifat permanen, melainkan hanya bersifat temporer atau sementara, sebab kenyataannya setelah Amerika Serikat dan sekutunya melakukan bombardir ke Afganistan maka tidak lama kemudian terjadi lagi serangkaian teror bom bunuh diri di berbagai negara yang merupakan sekutunya Amerika Serikat. Tidak dapat diprediksi kapan dan di mana bom bunuh diri itu terjadi dan merenggut ratusan hingga ribuan dari nyawa manusia yang tidak berdosa.

Solusi penanggulangan yang permanen agar tidak lagi terjadinya serangkaian reaksi teror bom bunuh diri, tidak ada ubahnya dengan solusi penanggulangan terhadap bencana air bah. Jika pembuangan sampah ke sungai yang menjadi biang akar penyebabnya, maka dibutuhkan upaya pembebasan sungai dari sampah dan selanjutnya menjaga kebersihan sungai dari sampah. Lantas apa biang akar yang menjadi latar belakang penyebab tumbuhnya serangkaian reaksi teror bom bunuh diri? Jawabannya, hentikan arogansi keserakahan dan rasa ingin menang sendiri Amerika Serikat dan sekutunya yang senantiasa menginvasi negara-negara Islam di Timur Tengah. Akibat invasi Amerika Serikat dan sekutunya yang membombardir negara-negara Islam di Timur Tengah justru telah menyebabkan rakyat sipil yang tidak berdosa kehilangan nyawa, keluarga, tempat tinggal, cinta dan harapan. Berpuluh-puluh tahun Amerika Serikat dan sekutunya terus melakukan invasi sehingga membawa dampak psikologis tumbuhnya dendam balasan dan radikalisme perlawanan yang tumbuh dari kepedulian sesama muslim.

Dendam pembalasan itu diimplementasikan melalui bom bunuh diri, yang oleh sebagian pihak menganggap sebagai tindakan aksi terorisme. Padahal bom bunuh diri ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan reaksi dari peristiwa yang melatarbelakanginya yaitu tindakan Amerika Serikat dan sekutunya yang telah memulai melakukan tindakan bombardir ke negara-negara Islam di Timur Tengah yang berakibat ribuan warga sipil yang tidak berdosa kehilangan nyawa, keluarga, tempat tinggal, cinta dan harapan.

Kalau kita bicara angka-angka, maka korban warga sipil yang tidak berdosa di Paris jelas belum seberapa jika dibandingkan dengan korban warga sipil yang tidak berdosa di negara-negara Islam di Timur Tengah yang dibombardir oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dibutuhkan intropeksi yang lebih mendalam dari berbagai pihak, terlebih-lebih lagi kepada penguasa pengambil kebijakan di Amerika Serikat dan sekutunya yang menjadi biang kerok akar penyebabnya.

Jika reaksi bom bunuh diri dianggap sebagai terorisme karena target sasarannya adalah warga sipil tidak berdosa, lantas bagaimana dengan tindakan aksi genosida yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya yang berpuluh-puluh tahun tanpa berkesudahan melakukan bombardir ke negara-negara Islam di Timur Tengah yang target sasarannya mengenai ribuan warga sipil tidak berdosa? Adilkah jika kita kemudian hanya mengutuk reaksi para pelaku bom bunuh diri tanpa diimbangi mengutuk aksi bombardir Amerika Serikat dan sekutunya yang menjadi biang akar penyebab lahirnya reaksi balasan melalui serangkain teror bom bunuh diri?

Saya bukan membela kelompok yang selama ini melancarkan reaksi balasan melalui bom bunuh diri. Saya bukan seorang muslim dan saya bukan seorang penganut Islam. Bahkan mungkin kalau kebetulan saya terjebak berada di antara kelompok yang selalu melancarkan rekasi bom bunuh diri, mungkin saya dijadikan target pelampiasan mereka untuk dibunuh. Saya sadar dan paham betapa sesungguhnya tidak ada manusia yang menghendaki kedamaiannya terusik akibat teror bom bunuh diri, kalau saja Amerika Serikat dan sekutunya bersedia islah dan mengakhiri bombardirnya kepada warga sipil yang tidak berdosa di negara-negara Islam di Timur Tengah, maka niscaya tidak akan pernah terjadi ancaman reaksi teror bom bunuh diri.

Konklusinya, penindasan yang bertubi-tubi dari sikap arogansi kekuasaan dan rasa ingin menang sendiri yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah dan negara-negara minoritas Islam di berbagai belahan benua itulah sebagai biang akar bangkitnya radikalisme, fanatisme dan intoleransi yang implementasinya diwujudkan melalui teror bom bunuh diri.

Saya dan tanpa terkecuali warga masyarakat dunia lainnya pasti serta merta akan mengutuk keras peristiwa teror kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Paris baru-baru ini yang telah menewaskan ratusan warga sipil tak berdosa. Kecuali ISIS, siapa aktor yang paling terutama berada di garda paling terdepan yang harus bertanggungjawab? Tentunya, Amerika Serikat dan sekutunya yang wajib bertanggung jawab terhadap terjadinya serangkaian reaksi teror bom bunuh diri sebab mereka lah biang kerok akar satu-satunya penyebab yang melatarbelakangi bangkitnya serangkaian reaksi teror bom bunuh diri selama ini. 

ISIS tidak ubahnya asap, dan Amerika Serikat dan sekutunya tidak ubahnya api. Ingat hukum kausalitas, jika ada asap (reaksi teror bom bunuh diri), maka pasti ada api (aksi bombardir Amerika Serikat dan sekutunya}, sebaliknya jika tak ada api (aksi bombardir Amerika Serikat dan sekutunya} maka tentunya tidak ada asap (reaksi teror bom bunuh diri). Ingat hukum alam ‘asap’, dia akan cepat berkolaborasi dengan udara sesuai arah mata angin, sehingga orang-orang yang tidak turut terlibat dalam baranya api akan tetap kena imbasnya. Oleh karena itu agar reaksi asap tidak meluber ke mana-mana, segera padamkan api.

Salam,
Joe Hoo Gi
 
 
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *