Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Minggu, 08 November 2015

Tinjauan Kritis Mama Minta Pulsa (Part 1)


Baru-baru ini polisi telah menangkap pelaku tindak penipuan ‘mama minta pulsa’ melalui SMS yang katanya selama ini membuat resah masyarakat pengguna handphone. Tindak penipuan melalui SMS ini modusnya sama dengan tindak penipuan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ yang selama ini konon katanya juga membuat resah masayarakat pengguna handphone. 


Kalau saja masyarakat pengguna handphone mau bertindak cerdas, maka yang terjadi pelaku penipuan tidak akan bertahan lama dan akan mengakhiri aksi petualangannya segera untuk membuat kabar palsu perihal ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ kepada masyarakat pengguna handphone. Tapi sebaliknya karena kebodohan dari masyarakat pengguna handhone yang mau begitu mudah dibohongi, ibarat anak kecil yang mudah dibohongi, maka kondisi kebodohan ini dimanfaatkan orang pintar untuk mengelabuhi "orang bodoh".
 
Trend modus ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ sama dengan trend modus perdukunan berkedok paranormal, meminta sumbangan door to door berkedok amal dan kemanusiaan dan para peminta-minta atau pengemis yang meminta belas kasihan dengan cara berpura-pura untuk dikasihani. Padahal tujuannya para pelaku tetap sama yaitu memanfaatkan kebodohan orang lain yang percaya kepada modus aksinya yang seolah-olah benar sehingga uang sebagai targetnya dapat dicapai.

Di sini pembahasan ada pada di manakah letak kebodohan masyarakat tertentu (kata ‘masyarakat tertentu’ di sini berkonotasi bahwa tidak semua masyarakat, melainkan hanya beberapa orang dari masyarakat) yang mau diperdayai dengan aksi trend pengelabuhan ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’.

Sesungguhnya kebodohan ini sama dengan kebodohan masyarakat yang begitu mudahnya percaya kepada perdukunan atau paranormal yang seolah-olah mempunyai kekuatan mistis yang dapat menyelesaikan persoalan yang telah dialami pasien. Karena fenomenal masyarakat telah begitu percaya kepada perdukunan yang seolah-oleh benar, maka banyak orang mengelabuhi memanfaatkan aksi perdukunan mencari mangsa para korban yang telah percaya bahwa mistis itu ada dan dukun itu benar. Tidak sedikit para calon pejabat dari pilleg, pilkada dan pilpres yang mendatangi para dukun dengan maksud agar para calon berhasil memenangkan pemilihan umumnya. 

Tak sedikit uang yang harus dibayar dari mulai puluhan juta, ratusan juta hingga miliaran rupiah yang diberikan kepada sang dukun untuk mematangkan maksud dari keinginan sang calon. Alhasil, para calon pun gagal, tapi ada juga yang berhasil karena memang faktor kebetulan. Kadang faktor kebetulan pun oleh kebanyakan masyarakat yang percaya kepada praktik perdukunan dianggap sebagai kebenaran.

Kondisi masyarakat yang begitu mudah diperdayai ini juga dimanfaatkan oleh para pencari sumbangan berkedok kemanusiaan dan amal, padahal kalau kita mau cerdas menelusuri ke mana aliran dana sumbangan yang masuk  berujung pada kepentingan sedekah untuk mencari makan saja. Intinya kata kemanusiaan dan amal dipakai sebagai iklan pemanis agar masyarakat mau merogoh koceknya memberikan secara cuma-cuma, padahal kata kemanusiaan dan amal itu sebagai topeng untuk menutup wajah sebenarnya yaitu mencari uang tanpa bekerja alias gratis.

Sekarang kembali ke pokok persoalan perihal aksi ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ juga merupakan tindakan pengelabuhan untuk memanfaatkan kondisi masyarakat yang begitu mudahnya mempercayai sesuatu hal tanpa mau berpikir kritis dan crosscheck bahwa yang tidak benar itu seolah-oleh benar. 

Padahal kalau saja masyarakat mau mencermati sms dari si X yang meminta pulsa yang seolah-olah itu keinginan dari orang yang dicintainya, kita harus mengenali gejala tanda bahwa benarkah itu rangkaian kata-kata sms ‘mama minta pulsa’ adalah sms dari mamahnya? Setiap anak pasti mengetahui nomor handphone orang yang dikenalinya. Jika dia bermaksud mentransfer pulsa, mengapa bukan nomor handphone mamahnya yang konon meminta pulsa, mengapa harus mentransfer ke nomor handphone orang lain? Dari sini saja jelas korban bertindak tidak cermat alias bodoh. Kalau misal orang yang mengaku mamahnya berdalih lewat smsnya kalau mamah sudah ganti nomor, maka mengapa tidak langsung dihubungi saja? Kalaupun korban beralasan dia tidak langsung menghubungi mamahnya karena kebentur irit pulsa, tampaknya dalih ini di luar nalar, sebab untuk mentransfer pulsa saja dia bisa mengupayakan untuk membelikan, mengapa untuk menghubungi mamahnya sendiri harus mengurungkan niat dengan alasan irit pulsa? 

Hal serupa juga dialami oleh para korban yang mendapat sms ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’. Bukankah jika benar korban mendapat hadiah dari gebyar undian berhadiah dari salah satu nama bank anu, korban bisa langsung crooscheck ke kantor salah satu nama bank anu terdekat untuk menanyakan kabar kebenaran dari kabar sms tersebut? Mengapa tanpa crooscheck, korban harus mengirimkan uang melalui transfer bank kepada pelaku? Lagi, korban tertipu gara-gara dapat sms yang menyatakan dia mendapat hadiah dari nama provider tertentu mengapa tidak langsung menanyakan ke operator perihal kabar sms ini?

Bila kebodohan ini terus dipelihara, maka berarti telah memelihara dan turut membesarkan pula para benalu dari pelaku yang suka mengirimkan ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’. Jika kita mau sedikit mengkritisi apa yang salah dari pelaku ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ ini? Bukankah modus pelaku sama dengan orang yang meminta dana sumbangan berkedok kemanusiaan atau perdukunan? Jika pelaku ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ dinyatakan bersalah mengapa praktek perdukunan, paranormal dan peminta dana sumbangan dari dulu hingga sekarang mendapat pembiaran sehingga sel benalu menjadi beranak pinak dan berurat berakar di masyarakat? Ini jelas tidak adil di satu sisi polisi bertindak tegas dan masyarakat memberikan stigma sebagai musuh kepada  praktik ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebyar undian’ tapi di sisi lain masyarakat merasa tidak terusik dan polisi melakukan pembiaran kepada praktik perdukunan/paranormal dan praktik peminta dana sumbangan berkedok kemanusiaan dan amal.

Maksud dari tulisan ini tiada lain jika masyarakat tidak ingin ada praktik penipuan ‘mama minta pulsa’ dan ‘selamat anda mendapatkan hadiah dari gebiar undian’, praktik perdukunan atau paranormal dan praktik peminta dana sumbangan berkedok kemanusiaan dan amal maka mencobalah untuk bertindak kritis dan cerdas betapa kebodohan yang dialami sesungguhnya pengalaman berharga untuk menghindari kebodohan untuk keduakalinya. Jika kebodohan masih terus dipelihara maka sesungguhnya masyarakat itu sendiri yang turut bertanggung jawab memelihara dan membesarkan praktik-praktik penipuan itu menjadi berkembang. Ini ibarat banjir dan membuang sampah sembarangan, jika tidak ingin mendapatkan banjir maka janganlah membuang sampah sembarangan. Jika sudah pernah terlanjurt mendapat banjir maka intropeksi untuk menghindari bencana banjir keduakalinya dengan cara jangan membuang sampah sembarangan. Jika tidak ingin tanah tebing mendatangkan longsor maka janganlah menggunduli pohon pada area tebing. Jika tidak ingin ada pemanasan global maka hindari penggundulan hutan dan minimalisasikan memberikan kaca-kaca di area gedung-gedung tinggi.


Salam,
 
Joe Hoo Gi


 
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *