BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Kamis, 17 Desember 2015

Perjuangan Aksi Mahasiswa Universitas Janabadra Mencari Figur Rektor Definitif

Maksud dari tulisan saya ini, Perjuangan Aksi Mahasiswa Universitas Janabadra Mencari Figur Rektor Definitif, hanya sekedar berbagi nostalgia perjuangan dari kesaksian saya untuk mengenang kembali lembaran peristiwa sejarah 27 tahun yang silam yang terjadi pada permasalahan internal di Universitas Janabadra betapa proses perjuangan dari para aktivis Gerakan Mahasiswa yang menolak jabatan Drs.Djajeng Soegito,Bsc sebagai Rektor karena tidak sesuai dengan persyaratan jabatan Rektor yang definitif merupakan pilihan yang harus diambil demi untuk sebuah masa depan pendidikan yang lebih bermartabat, beradab dan transparan sesuai amanat dari cita-cita ketika Perguruan Tinggi Swasta ini didirikan. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.




Aksi mahasiswa Universitas Janabadra Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 23 Nopember 1989 yang menuntut kepada pihak Yayasan UJB agar segera memilih dan menetapkan pejabat Rektor yang definitif dan menolak jabatan Rektor YMT, Drs.Djajeng Soegito,Bsc merupakan aksi pertama kali saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Universitas Janabadra (IM-UJB).

Pada aksi ini keterlibatan IM-UJB hanyalah sebagai peserta dan tidak terlibat penuh di dalamnya sebab banyak kepentingan kelompok telah bermain dalam aksi ini. Aksi ini diprakarsai oleh kawan-kawan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Senat Mahasiswa (SEMA) terutama BPM/SEMA Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Sedangkan untuk kawan-kawan di SEMA Fakultas Tekhnik Sipil hanya ikut saja.

Pada rapat konsolidasi hari pertama, Selasa tanggal 21 Nopember 1991 berlangsung di ruang SEMA FE. Awal mulanya kawan-kawan SEMA FE dan FT meragukan untuk bisa turut dalam aksi 23 Nopember, alasannya ada kepentingan Dekan FH (Oemar Sanusi,SH) dan Pembantu Dekan FH (Ruth Nancy LTP,SH) turut bermain dalam aksi ini. Kekawatiran kawan-kawan SEMA FE dan FT disangkal oleh Etiko Kusjatmiko, ketua SEMA FH.

Persiapan H-1 untuk aksi 23 Nopember besok telah berlangsung di dua tempat. Pertama, di kediaman kawan Monda B.Saragi telah berlangsung rapat konsolidasi yang dihadiri kawan-kawan BPM/SEMA FH, FE dan FT. Kedua, di kediaman kostnya Heroe Waskito di Kunchen (tempat kost ini merupakan tempat pertama kali komisariat IM-UJB berdiri dan terbentuk) berlangsung pembuatan isi coretan poster dan spanduk aksi untuk dikerahkan pada aksi besok pagi. Ketika itu saya berada di Kunchen untuk pembuatan isi coretan poster dan spanduk aksi, sehingga saya tidak tahu perdebatan dan hasil kesepakatan apa yang dicapai pada rapat konsolidasi di kediamannya Monda B.Saragi.

Memang tidak dapat disalahkan kekawatiran pada kawan-kawan SEMA FE dan FT perihal ada kepentingan Oemar Sanusi,SH dan Ruth Nancy LTP,SH turut bermain dalam aksi pelengseran Rektor YMT, Drs. Djajeng Soegito,Bsc sebab sejak meninggalnya KPH Mr.Soedarisman Poerwokoesoemo pada tanggal 27 Pebruari 1988 sebagai orang nomor satu di Universitas Janabadra, banyak manuver kepentingan yang bermain dari mulai intrik, kasak-kusuk hingga pamflet tentang 'siapa orang nomor satu' sebagai rektor definitif pasca meningalnya KPH Mr.Soedarisman Poerwokoesoemo. Bahkan ketika saya intens mengikuti perkembangan polemik yang terjadi pasca meninggalnya KPH Mr.Soedarisman Poerwokoesoemo, ada nama-nama yang turut bermain manuver kepentingan, antara lain Drs.Soebijanto Wiroyoedo, Drs.Soemarsis, Ispurwanto,SH, Murjiyanto,SH dan Soemarsono,SH. Sementara kedudukan mahasiswa justru berada di persimpangan jalan di antara jalan manakah yang harus diterobos untuk diikuti sebagai 'kebenaran', sehingga tidak sedikit mahasiswa menjadi alat kepentingan mereka. 
 
Terlepas dari manuver kepentingan yang bermain, yang jelas keterlibatan saya dan kawan-kawan IM-UJB, terlepas dari kawan-kawan BPM/SEMA, dalam aksi pelengseran dan penolakan Rektor YMT Drs.Djajeng Soegito,Bsc adalah perjuangan murni tanpa kepentingan dan pamrih. 

DALAM SEMINGGU YAYASAN SANGGUP TETAPKAN REKTOR
 
Pihak Yayasan Universitas Janabadra Yogyakarta menyatakan dalam waktu seminggu ini akan menyanggupi tuntutan sejumlah mahasiswa untuk memilih dan menetapkan rektor yang definitif. 

"Kami akan memanggil perwakilan mahasiswa untuk mendengarkan hasil kerja menyangkut pergantian rektor. Karena apa yang saudara lakukan sekarang sangat mendorong kami untuk itu," kata Ketua Yayasan Universitas Janabadra Yogyakarta, Noto Soekardjo. Noto Soekarjo mengatakan hal itu di tengah kerumunan pengunjuk rasa mahasiswa.

Sejak pagi sejumlah mahasiswa dari Fakultas Hukum dan Ekonomi berkumpul menggelar aksi di kampus Universitas janabadra Yogyakarta yang terletak di jalan Tentara Rakyat Mataram untuk menyampaikan aspirasi mereka menyangkut jabatan Rektor sementara. Selain berorasi meminta aspirasi mereka didengar, aksi yang sudah berlangsung sehari sebelumnya juga diwarnai dengan beberapa spanduk dan poster, di antaranya antara lain bertuliskan: 'Kami Butuh Rektor, Bukan Guru SMA'.

Akhirnya Noto Soekardjo menemui para perwakilan demonstran. Tidak diperoleh kejelasan apa yang dibicarakan selama pertemuan tertutup antara para perwakilan mahasiswa dengan Ketua Yayasan. Tapi beberapa perwakilan mahasiwa yang dihubungi mengaku pentingnya penetapan rektor definitif sehubungan dengan status Perguruan Tinggi Swasta itu. Menururt rencana pada tahun 1990 status Universitas Janabadra akan ditingkatkan dari 'diakui' menjadi 'disamakan'. Jika Universitas Janabadra belum memiliki pejabat rektor yang definitif pasca ditinggalkan rektor sebelumnya, almarhum Mr.Soedarisman Poerwokoesoemo beberapa tahun lalu, maka akan dikawatirkan wacana perolehan status 'disamakan' akan mengalami kendala.

Konklusinya, Rektor sementara sekarang, Drs.Djajeng Soegito,Bsc  yang statusnya hanya Yang Menjalankan Tugas (YMT) bukanlah termasuk kriteria Rektor yang definitif, sedangkan yang menjadi permintaan mahasiswa adalah pejabat Rektor yang definitif. Kalau Drs.Djajeng Soegito,Bsc terus dipakasakan sebagai Rektor berstatus YMT lantas siapa yang kelak menandatangani ijazah kesarjanaan?

Dalam hubungan itu dikatakan oleh Noto Soekardjo, demi kelancaran dan ketertiban proses belajar dan mengajar di kampus, Ketua Yayasan berusaha secepatnya mengadakan rapat internal khusus. Kesanggupan itu disambut baik oleh semua perwakilan mahasiswa yang selanjutnya para pengunjuk rasa membubarkan diri. 

Sumber:
Harian Suara Merdeka, 24 November 1989


TUNTUTAN MAHASISWA UNIVERSITAS JANABDRA DIRESPON KETUA YAYASAN

Kamis pagi kemarin sekitar pukul 07.30 WIB halaman parkir kampus Universitas Janabadra kembali jadi ajang protes para mahasiswanya yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum, Ekonomi dan Tekhnik Sipil. Aksi mahasiswa Universitas Janabadra ini dipimpin langsung oleh Ketua BPM dan Senat Mahasiswa.

Aksi mahasiswa ini mendapat respon dari Ketua Yayasan, Noto Soekardjo, sehingga melegakan para pengunjuk rasa.

"Agaknya tuntutan kami terpenuhi. Karena pak Noto berniat akan mengganti pejabat rektor sesuai tuntutan kami," ujar seorang peserta aksi mahasiswa kepada KR.

Drs. Djajeng Soegito,Bsc pejabat Rektor yang ditunjuk oleh Pihak Yayasan, setelah Rektor sebelumnya, Mr.Soedarisman Poerwokoesoemo meninggal dunia, menurut beberapa mahasiswa berbagai kebijaksanaannya selama ini dinilai kurang tepat. Pihak Yayasan akan merundingkan pencalonan pejabat Rektor yang baru dalam waktu seminggu atau akan mengumumkannya pada akhir November ini.

"Kalau ternyata kami masih kurang sreg, maka kami masih ingin protes lagi", ujar mahasiswa itu pula.

Situasi protes yang berjalan dingin dan tidak mengakibatkan kerusakan atau insiden yang tidak diharapkan selesai sekitar pukul 09.00 WIB. Para mahasiswa itu dengan semangat mengibarkan poster yang mereka bawa. Mereka mengawali protes dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan lagu-lagu mars yang menimbulkan semangat juang seperti Halo-Halo Bandung dan lain-lain.

Noto Soekardjo menemui para mahasiswa dan meminta perwakilan mahasiswa untuk berunding di ruang sidang rektorat lantai II. Hasil perundingan diumumkan kepada para pengunjuk rasa di halaman kampus sesuai tuntutan mereka. Para perwakilan mahasiswa yang akan dihubungi KR ternyata tidak berada di kampus setelah usainya unjuk rasa. "Mereka sedang syukuran karena tuntutan ini berhasil," ujar seorang mahasiswa yang keberatan disebutkan identitas nama dan fakultasnya.

Menurut data yang dikumpulkan KR sebagian besar mahasiswa yang melakukan unjuk rasa terdiri dari mahasiswa baru semester I yang belum tahu situasi dan kondisi kampus.Mereka hanya sekedar ikut-ikutan saja, tambah sumber itu pula.Tidak adanya insiden yang tidak diharapkan tersebut, menurut para pengunjuk rasa memang sengaja tidak diciptakan."Karena kami hanya ingin bermusyawarah, tidak membuat kerusuhan," kata seorang dari mereka.

Para aparat keamanan yang bersiaga di luar kampus juga tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengatasi peristiwa tersebut.Enam perwakilan mahasiswa itu antara lain Joe Hoo Gi, Firman Djaya Daeli, M.Taufan, Etiko Kusjatmiko, M.Chairul Arifin dan Josep Silaban yang berjaket almamater melakukan delegasi dialog dengan Noto Soekardjo di ruang rektorat. Selesai dialog, Noto Soekardjo didampingi stafnya dan enam perwakilan mahasiswa turun dari ruang rektorat di lantai II menemui para pengunjuk rasa. Noto Soekardjo menghimbau kepada para pengunjuk rasa agar dalam menyampaikan aspirasi ini harus memperhatikan stabilitas kampus.

"Kami memang sedang mempersiapkan rektor definitif. Dalam waktu satu minggu ini kami akan mengadakan rapat internal khusus untuk membicarakan tuntutan aspirasi saudara-saudara," tegas Noto Soekardjo diiringi tepuk tangan para pengunjuk rasa.

Seusai memberi penjelasan, Noto Soekardjo meninggalkan kampus dengan dikawal beberapa mahasiswa. Akhir dari unjuk rasa ini, para pengunjuk rasa menutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Setelah itu, kampus kembali normal.

Sumber:
Harian Kedaulatan Rakyat, 24 November 1989

Salam,
Joe Hoo Gi 


Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *