Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Rabu, 06 Januari 2016

PKI Saja Pernah Mengucapkan Selamat Hari Natal


Sejarah telah mencatat betapa Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) secara resmi pernah mengucapkan Selamat Hari Natal kepada umat Nasrani di Indonesia melalui pojok editorial dengan judul 'Damai Di Dunia" yang dimuat di Harian Rakyat, 24 Desember 1964.


Stigma Orde Baru yang menyebut PKI sebagai partai politik berideologikan Komunis yang atheistik, justru sejarah telah membuktikan betapa yang atheistik telah menunjukkan wajah tolerannya. Kalau yang atheis saja bisa toleran, apalagi yang theis tentunya akan lebih toleran. Tapi kenyataannya malah sebaliknya, masih banyak partai politik dan ormas yang berlandaskan agama justru tidak menunjukkan wajah tolerannya, mengharamkan ummat untuk mengucapkan Selamat Hari Natal. Ini artinya, bukan theis dan atheis yang dapat menentukan sikap toleran atau tidak, melainkan sifat pluralis dan anti pluralis lah yang dapat menentukan sikap toleran atau tidak.

Ahmad Wahib (1942-1973) dalam buku hariannya yang telah diterbitkan oleh LP3ES dengan judul 'Pergolakan Pemikiran Islam' (1981), menuliskan: "Bagi kita, theis dan atheis bisa berkumpul, muslim dan nasrani bisa bercanda, artis dan atlit bisa bergurau, kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan anti pluralis tak bisa bertemu."
 
Salam,
Joe Hoo Gi




Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *