Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Kamis, 18 Februari 2016

Solusi Agar LGBT Bisa Diterima Oleh semua Pihak (Studi Kasus Dorce Gamalama)


Setiap kelahiran manusia tidak bisa diprediksi apakah sifat genetik libido pada bayi yang telah dilahirkan akan sama dengan jenis kelamin pada bayi tersebut. Ketika sang bayi lahir berkelamin lelaki belum tentu kelak memiliki sifat genetik libido sebagai lelaki, begitu juga sebaliknya, ketika sang bayi lahir berkelamin perempuan belum tentu kelak memiliki kesamaan sifat genetik libido sebagai perempuan. Kondisi real manusia di mana ada perbedaan signifikan dan masif antara jenis kelamin dan sifat genetik libido pada dirinya, maka kondisi real inilah yang oleh perkembangan waktu disebut dengan istilah akronim sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender).


Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta dan Kehidupan memang menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin: lelaki dan perempuan. Kesalahan yang fataal jika kehadiran LGBT dianggap sebagai fenomenal yang mempersoalkan dan memperdebatkan jenis kelamin. Padahal perbedaan LGBT dan Non-LGBT bukan memperdebatkan pada faktor jenis kelamin, melainkan sifat genetik libido yang tertanam dalam dirinya. Setiap manusia, baik yang LGBT maupun yang Non-LGBT (baca: heteroseksual), pasti memiliki sifat genetik libido pada dirinya. Sifat genetik libido pada manusia sudah menjadi bawaan sejak lahir dan tidak ada kekuatan tekhnologi kedokteran pun yang bisa mengubah sifat genetik libido, kecuali mengubah jenis alat kelamin manusia melalui medis pembedahan. Dengan kata lain, jenis kelamin tidak bisa menjadi dalil ilmu pasti untuk menentukan sifat genetik libido pada manusia.  

Seseorang dengan jenis kelamin lelaki, belum tentu sifat genetik libidonya berperan sebagai lelaki. Begitu juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan belum tentu sifat genetik libidonya berperan sebagai perempuan. Solusi ideal yang terjadi pada dunia medis kedokteran modern hanya sanggup mengubah alat kelamin manusia untuk disesuaikan dengan sifat genetik libido yang dimilikinya tapi tidak akan pernah sanggup mengubah sifat genetik libido yang ada pada manusia untuk disesuaikan dengan jenis kelaminnya.

Kalau kondisi realnya sudah demikian jelas mengapa LGBT harus diributkan dan dipersoalkan? Terasa aneh bila keberadaan LGBT diperdebatkan dan dipersoalkan untuk kondisi sekarang ini mengingat keberadaan LGBT sudah ada sejak dimulainya sejarah perjalanan manusia lahir ke dunia. Memang akronim dari LGBT merupakan istilah akronim baru sehingga terasa asing di telinga sebagian masyarakat tetapi jika maksud dari penjelasan akronim LGBT ini dipaparkan maka sudah pasti semua masyarakat di tiap zaman tanpa terkecuali sudah mengetahui sosok manusia LGBT. Apa lagi di Indonesia sendiri, kehidupan LGBT sudah divisualisasikan secara gamblang dalam kesenian Ludruk sejak tahun 760 Masehi. Betapa image perihal LGBT ketika saya masih di bawah usia tujuhbelas tahun, konsepsi masyarakat perihal keberadaan LGBT tidak seheboh seperti sekarang. Jika dulu LGBT digambarkan sebagai fenomenal yang penuh humorik dan gelak tawa canda, tapi sekarang LGBT digambarkan sedemikian rupa sebagai wajah yang penuh danger serba menakutkan seolah-olah Negara akan hancur luluh lantak dengan keberadaan LGBT. Hebat dan payahnya lagi ranking popularitas pembahasannya melebihi dari korupsi, narkoba, terorisme dan freeport.

Dalih dari pemuka agama sepakat bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan. Pada agama Samawi yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sepakat bahwa Allah menciptakan manusia pertama berpasangan bernama Adam dan Hawa. LGBT juga bagian dari proses keturunan Adam dan Hawa, yang artinya LGBT tetap mengakui status jenis kelaminnya. Seorang Lesbian tetap mengakui status jenis kelaminnya sebagai perempuan, sedemikian juga dengan seorang Gay atau Transgender juga mengakui status jenis kelaminnya sebagai lelaki. Untuk membedakan antara lelaki dan perempuan LGBT dan Non-LGBT bukan pada jenis kelamin, melainkan sifat genetik libido yang dimilikinya bertolak belakang dengan jenis kelaminnya.

Kesalahan yang fataal adalah dalih yang bersumber pada asumsi stereotip prasangka yang mengatakan LGBT adalah bagian dari penyimpangan seksual yang diakibatkan oleh jiwa yang sakit. Alasannya konon banyak lelaki dan perempuan LGBT sudah banyak yang "sembuh" dari ke-LGBT-annya terbukti banyak lelaki dan perempuan LGBT yang sudah mempunyai pacar yang bukan dari LGBT dan bahkan bisa menikah secara hukum. Padahal makna dari sembuhnya LGBT ini hanyalah kepura-puraan untuk menutupi bahwa dia sudah bukan LGBT dengan cara mempunyai pacar atau melakukan pernikahan dengan seorang yang bukan LGBT. Segala upaya kepura-puraan ini dilakukan karena dia paham bahwa sistemik yang ada pada lingkungan masyarakatnya menolak kehadiran LGBT yang dianggapnya sebagai penyimpangan seksual yang diakibatkan oleh jiwa yang sakit. Konklusinya, LGBT bukanlah tindakan penyimpangan seksual yang diakibatkan oleh jiwa yang sakit melainkan sifat genetik libido yang ada pada LGBT berbeda dengan jenis kelamin yang dimilikinya. 

Tekhnologi kedokteran hingga sampai hari ini hanya dapat mengembalikan lelaki dan perempuan LGBT sesuai kecenderungan sifat genetik libido yang dimilikinya melalui bedah kelamin. Misal seorang lelaki Gay atau Transgender yang mempunyai sifat genetik libido sebagai perempuan, maka upaya yang dapat dilakukan oleh dunia kedokteran modern hanyalah membedah alat kelamin lelaki Gay atau Transgender itu menjadi alat kelamin perempuan. Setiap manusia pasti memiliki sifat genetik libido yang tertanam dalam dirinya sejak dilahirkan hingga dewasa. Sifat genetik libido pada manusia akan berakhir ketika manusia menempuh ajalnya. Dengan kata lain, sifat genetik libido yang tertanam pada setiap manusia tidak bisa untuk diubah karena sifatnya kodrati, alamiah dan manusiawi.

Lantas bagaimana agar LGBT dapat diterima oleh semua pihak tanpa terkecuali, khususnya keinginan hak LGBT untuk melangsungkan akad pernikahan yang sah oleh Hukum Negara? Tiada lain, para LGBT wajib mengubah alat kelaminnya melalui upaya medis pembedahan modern sesuai dengan sifat genetik libido yang ada pada dirinya. Misal dia seorang Lesbian yang berkelamin perempuan tapi sifat genetik libidonya sebagai lelaki, bila dia berkeinginan melangsungkan akad pernikahan yang sah oleh Hukum Negara, maka dia wajib meminta bantuan dokter bedah untuk melakukan upaya medis pembedahan alat kelamin perempuannya menjadi alat kelamin lelaki, begitu juga sebaliknya seorang Gay atau Transgender yang berkelamin lelaki tapi sifat genetik libidonya sebagai perempuan, bila dia berkeinginan melangsungkan akad pernikahan yang sah oleh Hukum Negara, maka dia wajib meminta bantuan dokter bedah untuk melakukan upaya medis pembedahan alat kelamin lelakinya menjadi alat kelamin perempuan.

Solusi ini bukan hisapan jempol, omong kosong dan mengada-ngada mengingat sudah banyak anak bangsa dari LGBT yang sudah melangsungkan akad pernikahan yang sah oleh Hukum Negara setelah melakukan upaya pembedahan alat kelaminnya melalui dokter bedah. Sebagai studi kasus dapat saya sebutkan salah satunya misalnya seorang Transgender bernama Dedi Yuliardi Ashadi yang mengubah alat kelamin lelakinya menjadi perempuan melalui upaya medis pembedahan. Setelah Dedi berhasil merubah alat kelaminnya dari lelaki menjadi perempuan, Dedi Yuliardi Ashadi resmi mengganti namanya menjadi Dorce Gamalama, sang aktris beken papan atas yang sudah tidak asing lagi di mata dan telinga publik.

Tapi solusi ini untuk sementara mungkin sulit direalisasikan mengingat sebagian besar LGBT dari anak bangsa sendiri tidak mampu untuk membayar biaya medis pembedahan, kecuali ada kebijakan subsidi dari Pemerintah melalui Jaminan Kesehatan Nasional. Kendala persoalannya tidak cukup berhenti sampai di sini, solusi ini kemungkinan juga oleh sebagian pihak mungkin dianggap kontroversial dan kemungkinan juga mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat sebab sistemik arogansi heteroseksual yang terjadi secara turun temurun sudah  memberikan asumsi stereotipikal yang minor kepada keberadaan LGBT sebagai penyimpangan perilaku seksual dan bagian dari penyakit jiwa. Wallahu a'lam Bish-shawabi.

Sebagai intermezzo untuk mengakhiri tulisan saya ini, saya akan menutup tulisan saya ini dengan lagu country balada perihal LGBT yang digambarkan penuh humorik dan gelak tawa canda oleh Tom Slepe dalam lagunya berjudul Transaksi, yang saya ambil dalam album kasetnya yang beredar pada tahun 1980 ketika saya masih menginjak di bangku SLTP. Pesan pada lagu ini adalah kondisi LGBT tempo doeloe nampaknya jauh dari kondisi LGBT sekarang yang di sana-sini telah digambarkan sedemikian rupa sebagai wajah yang penuh danger serba menakutkan seolah-olah Negara akan hancur luluh lantak dengan keberadaan LGBT. Sebagai notabene, hingga sampai sekarang belum ada satu pun dari anak bangsa yang mengunggah dan membahas lagu Tom Slepe berjudul Transaksi. Saya jamin bilamana anda browsing maka tidak akan bakalan menemukan lagu tersebut. Oleh karena itu jika setelah saya memposting lagu Tom Slepe berjudul Transaksi lantas di kemudian nanti anda menemukan lagu Tom Slepe berjudul Transaksi yang telah tersebar di berbagai website maka berarti ada pihak-pihak yang diam-diam mengunggahnya dari postingan saya ini, kecuali telah mencantumkan atau seijin dari saya.


Salam,
Joe Hoo Gi


 
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *