BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Minggu, 13 Maret 2016

Membedah Cara Berpikir Anti Multikultural Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc


Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH.MSc  
konon disebut pakar Hukum Tata Negara 
konon bergelar sebagai Datuk Maharajo Palinduang
punya pernyataan sikap berpikir anti multikultural
yang telah disampaikan pada acara Seminar Nasional 
di Auditorium Djokosoetono  
Fakultas Hukum Universitas Indonesia  
Kamis, 20 November 2015:



"Pemimpin harus orang Islam
mereka non muslim yang tinggal
di bumi pertiwi ini
tidak pernah ikut berjuang
melawan penjajah
untuk itu non muslim
tidak boleh menjadi presiden
bahkan tidak boleh punya hak milik
atas tanah Indonesia."

Jika kita mengikuti 
jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc
maka Indonesia yang multikultural 
tidak patut dibangun candi dan vihara  
mengingat bangunan ritual bersejarah seperti:
candi Pringapus di Temanggung,
candi Gedong Songo di Ambarawa,
candi Sukuh di Karanganyar,
candi Cangkuang di Garut,
candi Prambanan di Sleman,
candi Borobudur dan Mendut di Magelang,
vihara Kwan Sing Bio di Tuban,
vihara Tay Kak Sie di Semarang,
vihara Soei Goeat Kiang di Palembang,
vihara Xian Ma di Makassar,
vihara Hok Tek Hian di Surabaya,
vihara Cu An Kiong di Lasem,
vihara Surga Neraka di Singkawang
adalah bangunan ritual  bersejarah
milik penganut keyakinan non muslim.

Jika kita mengikuti 
jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc
maka bangsa yang besar adalah 
bangsa yang menghargai pahlawannya
tidak akan mungkin menjadi penerapan  
mengingat para tokoh pejuang seperti:
Patih Gajah Mada,
Christina Martha Tiahahu,
Untung Surapati,
Kolonel I Gusti Ngurah Rai,
I Gusti Ketut Jelantik,
MGR.Albertus Soegijapranata,SJ,
Thomas Matulessy alias Pattimura,
Laksamana Muda John Lie Tjeng Tjoan,
Laksamana Madya Yosaphat Soedarso,
Robert Wolter Monginsidi,
Letnan Jenderal Tahi Bonar Simantupang,
Lambertus Nicodemus Palar,
Frans Kaisiepo,
Marthen Indey,
Dr.Johannnes Leimena,
Mayor Johannes Abraham Dimara,
Silas Papare,
Dr.Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, 
Marsekal Muda Agustinus Adisutjipto,  
Wage Rudolf Soepratman,
Prof.Dr.Ir.Herman Johannes,
Mayor Jenderal Donald Isaac Panjaitan,
Kapten Pierre Andreas Tendean,
Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi 
adalah para anak bangsa Indonesia 
yang menganut keyakinan non muslim. 

Jika kita mengikuti 
jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc
maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika
tidak pantas dijadikan sebagai 
semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia 
sebab kosa kata Bhinneka Tunggal Ika 
mencuplik dari kitab Sutasoma
karangan Mpu Tantular
sang pujangga ternama yang non muslim
yang hidup pada abad 14 
ketika kerajaan Majapahit 
diperintah oleh raja Hayam Wuruk yang non muslim
sehingga tujuan dari semboyannya 
akan memberi ruang toleransi
kepada para anak bangsa Indonesia yang non muslim.

Jika kita mengikuti 
jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc
maka lagu Indonesia Raya 
tidak pantas dijadikan sebagai 
lagu wajib kebangsaan 
Negara Kesatuan Republik Indonesia 
sebab lagu Indonesia Raya 
yang konon dipublikasikan pertamakali 
oleh koran Sin Po yang non muslim
merupakan lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman 
sang komponis yang non muslim.
  
Jika kita mengikuti 
jejak cara pandang berpikir anti multikultural 
Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,SH,MSc
maka Undang-Undang Dasar 1945 
tidak pantas dijadikan konstitusi negara
sebab di BPUPKI yang merumuskan UUD 1945 
terdapat para tokoh non muslim seperti:
Liem Koen Hian, 
Tan Eng Hoa, 
Oey Tiang Tjoe,
Oey Tjong Hauw,
Yap Tjwan Bing.



Salam,
Joe Hoo Gi 

http://www.kompasiana.com/joehoogi/membedah-cara-berpikir-anti-multikultural-prof-dr-yusril-ihza-mahendra-sh-m-sc_5707f5dad57e61ad0b8242fb
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *