BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Senin, 02 Mei 2016

Hak Kebebasan Sebagai Penulis Bukan Perkara Mudah Bagi Seorang Tapol (Studi Kasus Pramudya Ananta Toer)

Ketika saya membaca buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, khususnya buku yang ditulisnya ketika Pram masih mendekam di dalam penjara sebagai tahanan politik (tapol), membuat saya menjadi bertanya-tanya dan penasaran, bagaimana Pram bisa terpenuhi daya konsentrasinya sebagai penulis dan hak kebebasannya untuk menulis selama mendekam di dalam penjara sebagai tapol? Bukankah selama Pram mendekam di Pulau Buru sebagai tapol, hak-haknya untuk menulis dibatasi, dipersulit, dilarang dan bahkan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menulis karena waktunya habis untuk bekerja keras secara paksa? 


Saya membayangkan bagaimana mungkin bisa terjadi, meskipun dalam kenyataannya memang betul-betul terjadi, dalam kondisi serba represif yang dialami oleh Pram sebagai tapol di Pulau Buru betapa hak-hak kebebasannya untuk menulis telah serba dibatasi dan bahkan dilarang, ternyata Pram mampu membuktikan dapat menyelesaikan karya sastra tulisnya, antara lain berjudul Bumi Manusia, Rumah Kaca, Jejak langkah dan Anak Semua Bangsa? Luar biasanya lagi, Pram tidak pernah akan tahu jika keempat karya sastranya itu kemudian mendapat perhatian besar, dikenal dan diakui oleh masyarakat dunia.

Untuk mengusir rasa penasaran, saya kemudian mencari dan memburu jawaban dari para saksi tapol yang lain untuk mengungkap upaya langkah apa dan bagaimana yang ditempuh oleh Pram untuk bisa mendapatkan hak kebebasannya sebagai penulis dalam kondisi yang serba terbatas, tertekan dan represif?

Tumiso, kawan Pram sesama tapol di Pulau Buru memberikan kesaksiannya, betapa perhatian internasional terhadap nasib para tapol telah dimanfaatkan. Ketika Palang Merah Internasioanl (PMI) membesuk Para tapol di Pulau Buru, Tumiso menyelipkan secarik kertas pesan yang disembunyikan di dalam sepatunya. Isi surat itu intinya meminta kepada PMI agar dapat menekan kepada Rezim Orde Baru agar memperhatikan hak-hak para tapol khususnya hak kebebasan seorang Pram untuk bisa menulis.

Upaya yang dilakukan Tumiso ternyata berhasil, terbukti dunia internasional telah memberikan penekanan kepada Rezim Orde Baru agar memperhatikan hak kebebasan Pram untuk bisa menulis. Sejak ada penekanan dari dunia internasional, Pram diberi keleluasaan, meskipun tidak terbuka lebar, untuk bisa menuangkan hak ekspresinya sebagai penulis. Apalagi setelah Jean Paul Sartre, Sastrawan Perancis, mengirimkan mesin ketik kepada Pram, meskipun oleh petugas sipir mesin ketik kriman Jean Paul Sartre ditukar dengan mesin ketik bekas yang sudah dalam kondisi rusak.

Kolonel C Samsi, Komandan Inrehab Pulau Buru, pada tahun 1972 membagi tapol menjadi dua kelompok. Kelompok pertanian dan non pertanian. Pram masuk dalam kelompok non pertanian, yaitu kepiawaiannya sebagai penulis. Akhirnya atas perintah kolonel C Samsi, Pram dikarantina di Markas Komando (Mako) untuk mendapatkan hak kebebasannya sebagai penulis. Tapi Kolonel C Samsi hanya menyediakan ruangan berukuran 2 x 2 meter tanpa fasilitas yang menunjuang, seperti tinta mesin ketik dan kertas tidak disediakan. Pram disuruh menyediakan tinta pita mesin ketik dan kertasnya sendiri. Termasuk kondisi mesin ketik bekas yang sudah rusak, Pram disuruh memperbaiki sendiri. 

Banyak kawan Pram sesama tapol memberikan suport kepada Pram agar dapat memperoleh hak ekspresinya untuk menulis. Mesin ketik bekas yang sudah usang dan rusak diperbaiki oleh tapol yang kebetulan piawai di bidang reparasi mesin. Oei Hiem Hwie, seorang tapol yang sangat dekat dengan Pram menuturkan kisahnya, ketika pita ketik kehabisan karbon tintanya, maka Oei Hiem Hwie mensiasatinya dengan getah nila.

Untuk mendapatkan kertas untuk menulis bukan perkara yang mudah. Pram merogoh koceknya sendiri dengan menjual ayam. Pram menyuruh Dasipin, seoarang tapol asal Batang untuk membeli kertas sebab secara kebetulan Dasipin termasuk kru Gajah Mada yang bisa bolak-balik dari Mao ke Namlea. Mengapa di Namlea? Sebab kertas hanya bisa dibeli di Namlea.

Ternyata selain Tumiso, Oei Hiem Hwie dan Dasipin, tidak sedikit tapol lainnya yang masuk kelompok pertanian juga memberikan suport kepada Pram melalui sumbangan makanan dan minuman agar Pram tetap dapat terpenuhi daya konsentrasi dan kesehatannya untuk bisa menulis. Misalnya ada yang memberikan buah-buahan hasil panen pertanian seperti pisang, pepaya dan sebagainya kepada Pram.

Kadang Pram juga mengalami kebuntuan dalam menulis. Untuk mengatasi kebuntuan ini kawan-kawannya memberikan sumbangan pemikiran sebagai pancingan agar Pram tetap bisa melanjutkan untuk menulis. Kadang pula Pram sebagai manusia juga mengalami kelelahan sehingga kawannya juga turut menjadi tukang ketik seperti yang dialami oleh Paimin, tapol asal Tegal.

Dapat ditarik kesimpulan, betapa segala upaya dalam keterbatasan dapat diatasi jika ada kemauan keras dan kerjasama tim untuk saling berbagi dalam pergumulan sesama tapol sebagai kawan sepenanggungan. Tanpa ada kemauan keras dari Pram sebagai penulis, tanpa ada suport dan kerjasama dari kawan-kawan sesama tapol seperti yang dilakukan Tumiso, Oei Hiem Hwi, Dasipin, Paimin dan kawan sesama tapol lainnya, maka upaya untuk meraih hak kebebasan Pram sebagai penulis tentunya sangat sulit untuk dicapai. Bahkan lebih dripada itu, jika tidak ada tekanan dari dunia internasional dan pengertian dari Kolonel C Samsi tentunya tidaklah begitu mudah membukakan ruang kebebasan kepada Pram untuk mendapatkan hak kebebasannya sebagai penulis.

Akhir kata, meskipun Pram sudah berpulang pada tanggal 30 April tepat 10 tahun usia kepulangan beliau, tapi karya-karyanya terus hidup menyala di setiap regenerasi, tidak hanya untuk anak bangsa Indonesia, melainkan karya-karyanya sudah banyak dikenal dan diakui oleh masyarakat di penjuru dunia sebagai sumbangan berharga dalam khazanah kesusastraan dunia yang sangat menarik untuk dibaca pada segala lapisan masyarakat. Jejak rekam beliau dapat dijadikan suri tauladan, betapa dalam kondisi yang sangat serba terbatas, tertekan dan represif, Pram tetap berbuat sesuatu yang sangat berguna dan berarti untuk masyarakat Indonesia dan dunia.

  
Salam,
Joe Hoo Gi 



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *