BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Kamis, 07 Juli 2016

Pesan Kepada BNPT dan BIN: Mensupport Hackers sebagai Vaksin Untuk Meretas Virus Terorisme



Sudah saatnya pemerintah Indonesia melalui dua lembaga negara nonkementeriannya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN) harus segera berdamai dan mengajak hackers dari anak bangsa sendiri untuk serta merta turut membantu pemerintah Indonesia dalam penanggulangan dan pencegahan terjadinya aksi-aksi terorisme. Tanpa melibatkan hackers, maka jangan harap pemerintah Indonesia dapat melakukan penanggulangan dan pencegahan secara maksimal kapan dan di mana aksi-aksi terorisme bakal akan terjadi.


Selama ini yang dapat diketahui oleh masyarakat betapa para pelaku terorisme tidak pernah dapat terlihat oleh kasat mata. Para pelaku terorisme baru dapat terlihat setelah insiden teror telah terjadi membawa korban nyawa dan kerusakan harta benda di sana-sini. Tegasnya, aksi perlawanan yang dilakukan oleh para pelaku terorisme menjauhkan pola perlawanan yang saling berhadapan atau face to face. Para pelaku terorisme lebih memilih untuk meniru pola virus karena target yang menjadi korban jauh lebih besar.

Betapapun kuatnya keamanan Negara yang memiliki banyak detasemen yang handal dalam intelijennya dan penerapan undang-undang anti terorisme yang sanksi hukumannya dapat memberikan efek jera, tetapi jika tidak memiliki kekuatan cyberarmy yang smartly dalam melakukan upaya penerobosan sistem security information technology maka yang bakal terjadi secara continue tiada lain betapa Negara selalu dijadikan bulan-bulanan oleh para penebar teror maut.

Apa korelasinya antara aksi tindak pidana terorisme dengan information technology? Korelasinya jelas memiliki mata rantai yang tidak dapat dipisahkan sebab tanpa dibantu dengan sarana information technology, jangan harap aksi terorisme dapat terwujud. Para pelaku teror dalam persiapannya sebelum melakukan aksi teror perihal kapan dan dimana kejadian pelaksanaannya pasti membutuhkan sarana kontak melalui media internet yang merupakan bagian dari information technology kepada kelompok jaringannya berupa pesan-pesan yang disampaikan melalui short message service, email, media account messenger yang dengan leluasa dapat melakukan chatting dan call video streming. Bahkan media website dan berbagai account social media pun telah dijadikan sarana agitasi propaganda yang substansi dari pesan-pesan yang disampaikan kurang lebih sama dengan garis semangat ideologis yang dibawa oleh para pelaku terorisme.

Jika sarana information technology telah dijadikan jalan penghubung untuk melakukan aksi terorisme, maka sudah saatnya Negara wajib berdamai dengan hackers dari anak bangsa sendiri untuk turut serta merta diajak dalam satu meja rembuk betapa perbedaan dalam setiap keragaman wajib diselesaikan melalui perdebatan tanpa melalui jalan kekerasan sebab perdamaian merupakan pilihan akhir sebagai harga mati yang tidak bisa untuk ditawar kembali. Negara dalam 24 jam wajib memberikan support penuh kepada hackers dari anak bangsa sendiri untuk turut serta merta melakukan espionage, breakthrough, wiretapping hingga sampai upaya take apart sebelum para pelaku teror melakukan aksi terornya.

Jika terorisme diibaratkan sebagai virus yang piawai dalam melakukan hidden attacknya, maka vaccine untuk menangkal virus terorisme tiada lain adalah hackers dari anak bangsa sendiri yang biasanya dalam melakukan peretasannya selalu berlindung dibalik anonymousnya.

Salam,
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *