Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Kamis, 11 Agustus 2016

Membongkar Pembohongan Publik Dalam Usaha Mengkambinghitamkan Rokok (Part 2)


Benarkah pemerintah akan menaikkan cukai rokok dua kali lipat di Indonesia? Dari catatan berita yang saya ikuti, belum ada wacana dari pemerintah yang akan menaikkan cukai rokok hingga dua kali lipat. Selama ini dari catatan berita yang terkumpul dapat diintisarikan jika ada sebagian dari kelompok masyarakat yang anti merokok yang kebakaran jenggot ketika akan dilakukan pembahasan tentang Rancangan Undang-Undang Pertembakauan oleh DPR sehingga dirasakan perlu untuk melakukan serangkaian aksi penolakan atau black campaign terhadap rokok dan menggulirkan wacana usulan kepada pemerintah agar segera dilakukan penekanan kepada angka konsumen penikmat rokok yang konon merugikan kesehatan maka diperlukan regulasi untuk menaikkan cukai rokok semahal mungkin agar masyarakat dari kalangan perokok tidak dapat lagi menjangkau untuk membeli rokok.


Jauh hari sebelumnya saya sudah mengulas panjang lebar perihal konspirasi dibalik larangan merokok melalui postingan tulisan saya berjudul Membongkar Pembohongan Publik Dalam Usaha Mengkambinghitamkan Rokok (Part 1). Sejak awal saya tidak bisa percaya jika kebiasaan merokok dapat merusak kesehatan manusia. Peringatan tertulis yang tersaji dalam bungkus rokok bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, yang tentunya disertai gambar sang penderita penyakit kanker yang menjijikkan (anehnya sajian gambar yang menjijikkan ini hanya terjadi di Indonesia dan gambar-gambar yang menjijikkan tidak pernah tersaji pada bungkus-bungkus rokok di luar negera Indonesia), saya anggap black campaign yang tidak berdasar. Sampai sekarang belum ada data-data akurasi perihal kepastian kalau merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit sebagaimana dituduhkan oleh kelompok masyarakat para anti merokok.

Kalau boleh lebih kritis untuk dapat menguak misteri dibalik pelarangan merokok ini, maka seharusnya dapat dilihat betapa hasil yang didapatkan dari industri rokok merupakan penyumbang cukai yang signifikan untuk keuangan negara. Tidak hanya keuangan negara saja yang disupport oleh industri rokok, tapi industri rokok juga memberikan terobosan kontribusi terbesar pada dunia pendidikan, olahraga hingga sampai penyerapan tenaga kerja.

Kontribusi terbesar pada kesejahteraan kehidupan para petani dapat tertolong akibat industri rokok. Tembakau sebagai sumber bahan utama rokok dapat sepenuhnya diusahakan oleh para petani. Belum lagi rokok kretek alias rokok khas Indonesia yang sumber bahan utamanya kecuali tembakau sebagai sumber bahan utamanya, juga cengkeh sebagai campuran untuk citarasanya. 

Betapa kehidupan para petani di Indonesia selama puluhan tahun telah sangat-sangat disejahterakan oleh penghasilan penanaman pohon cengkeh yang terbentang dari Sabang sampai Merauke merupakan kekayaan sumber daya alam dari Tuhan Yang Maha Esa yang hanya tumbuh di Indonesia. Boleh dikata bahwa Indonesia lah satu-satunya yang memproduksi cengkeh di dunia.

Sebelum adanya pelarangan macam-macam dari kebiasaan merokok, betapa kebiasaan merokok sudah menjadi konsumsi sehari-hari oleh masyarakat dari para nenek moyang kita. Meskipun kebiasaan merokok selama bertahun-tahun tanpa henti, kenyataannya yang terjadi betapa mereka dapat bertahan hidup dalam usia yang sudah sangat lanjut atau sampai batas usia normal manusia Indonesia. Bahkan cerita kesaksian dari para kakek dan nenek kita yang doyan merokok ternyata usianya sudah banyak menembus ke angka delapanpuluh tahun hingga sampai dapat menembus satu abad lebih. Pada waktu itu belum terjadi penyakit yang macam-macam dan aneh-aneh seperti yang terjadi sekarang ini. Tapi anehnya sejak industri farmasi mengambil peranannya mendadak bermunculan kalangan aktivis anti merokok yang berupaya mengklaim data-data secara sepihak yang berujung mengkambinghitamkan rokok sebagai biang kerok kehancuran kesehatan manusia. Padahal belum ada data riset yang menyebutkan rokok dapat membunuh manusia.Kalau pun kemudian bermunculan data-data perihal bahaya laten merokok bagi kesehatan manusia, maka data-data itu diambil secara klaim sepihak yang disponsori oleh kaum industri farmasi. Sebagai studi banding dapat disimak sajian video yang berjudul Tembakau Untuk Kehidupan di https://www.facebook.com/oke.hakim/videos/1114846981902822/

Sebagai studi kasus perihal kehidupan Pramudya Ananta Toer, kebiasaan merokoknya dilakukan sejak usia remaja, Dalam waktu sehari, Pram bisa menghabiskan lebih dari dua bungkus rokok kretek atau lebih dari duapuluh empat batang rokok kretek tanpa dilindungi filter. Merokok menurut Pram sebagai pemacu berpikir menemukan inspirasi dalam dunia menulis roman. Meski dalam usia produktifnya dihabiskan di dalam jeruji besi dalam tekanan represif Orde Baru, tapi Pram masih tetap bertahan dan memiliki harapan. Kebiasaan merokoklah yang membuat Pram bisa menyelesaikan semua tulisan romannya. Kebiasaan merokok lah yang membuat Pram tidak takut hidup dalam kondisi yang serba represif. Kesunyian sehari-hari telah ditampik Pram dengan kebiasaan merokoknya. Bukan asap nikotin yang dihasilkan dari merokok yang menyebabkan Pram meninggal dunia pada usia yang sangat lanjut atau pada usia lebih dari delapanpuluh tahun.
Corat-marutnya kesehatan manusia yang diwarnai dengan tumbuhnya aneka penyakit yang macam-macam dan aneh-aneh pada diri manusia modern seperti sekarang ini salah satu faktor terbesar diakibatkan dari pola dan resep makan manusia sekarang yang lebih instant dan banyak racikan campuran zat-zat kimia yang terkandung dalam resep makanan. Belum lagi faktor bertambahnya kelahiran manusia sehingga banyak area pepohonan seperti hutan, kebun hingga persawahan ditebang habis hanya gara-gara untuk memenuhi kebutuhan perumahan sebagai tempat tinggal dan tempat usaha. Faktor lain dari kondisi hutan yang dibabat habis di sana-sini menyebabkan pemanasan global sehingga banyak munculnya aneka fenomenal alam yang terjadi.

Coba lihatlah disekelilingmu, kebiasaan masyarakat modern sekarang tanpa terkecuali sudah tidak mengandalkan anggota tubuh dari ke dua kakinya untuk menempuh perjalanan jauh-dekat. Semua perjalanan yang bisa ditempuh lewat jalan kaki telah dialihkan melalui kendaraan bermesin yang mengeluarkan banyak racun limbah polusi asap dari knalpot. Di sana-sini udara yang sudah tercemar oleh racun limbah polusi asap kendaraan bermesin telah dihisap oleh jutaan manusia. Belum lagi dengan perkembangan tekhnologi informatika sellular yang demikian pesatnya, sehingga segala komunikasi manusia telah diselesaikan melalui sarana handphone yang kekuatan signal yang dipancarkan mengandung radiasi yang sudah terbukti dapat menghambat lajunya peredaran darah ke otak manusia. 

Tapi sekali lagi mengapa rokok yang justru telah dijadikan kambing hitam sebagai biang kerok dari kehancuran kesehatan manusia itu semua? Tumbuhnya penyakit pada manusia yang disebabkan akibat terlalu berlebihan menghirup udara yang sudah tercemar oleh racun limbah polusi asap yang dihasilkan oleh pembuangan knalpot dari jutaan kendaraan bermesin yang tumpah ruah di jalan-jalan hingga sampai menyebabkan kemacetan di sana-sini, tapi mengapa rokok yang telah dijadikan kambing hitam sebagai biang kerok dari kehancuran kesehatan manusia? Tumbuhnya penyakit pada manusia yang disebabkan kurangnya berolahraga akibat anggota tubuh kedua kaki manusia telah dibiasakan untuk tidak banyak berjalan karena segala perjalanan jauh-dekat selalu dialihkan melalui kendaraan bermesin, tapi mengapa rokok yang telah dijadikan kambing hitam sebagai biang kerok dari kehancuran kesehatan manusia? Tumbuhnya penyakit pada manusia yang disebabkan oleh banyaknya mengkonsumsi zat-zat kimia yang terkandung pada makanan dan minuman, tapi mengapa rokok yang telah dijadikan kambing hitam sebagai biang kerok dari kehancuran kesehatan manusia? Tumbuhnya penyakit pada manusia yang disebabkan oleh pemanasan global di mana sinar cahaya matahari yang tidak sehat untuk kesehatan kulit manusia karena lapisan ozon telah mengalami kebocoran di sana-sini, tapi mengapa rokok yang telah dijadikan kambing hitam sebagai biang kerok dari kehancuran kesehatan manusia

Secara sistematis dan masif siapakah yang berada dibalik semaraknya black campaign yang dilakukan oleh kalangan yang anti rokok sebagai usaha untuk mengkambinghitamkan rokok? Bukan menjadi rahasia publik lagi telah terjadi perang persaingan bisnis industri antara industri rokok versus industri farmasi. Slogan yang dipakai oleh kaum industri farmasi selama ini dalih kehadirannya telah diklaim secara sepihak sebagai dewanya kesehatan manusia, sedangkan industri rokok sebaliknya dianggapnya sebagai kehancuran dari kesehatan manusia. Padahal jika kita mau melek, betapa skandal dalam industri farmasi jauh lebih jahat. Lihatlah malapraktek pemberian obat-obatan dan pemalsuan obat-obatan seperti vaksin palsu dan lain sebagainya di rumah sakit dan di apotik-apotik.

Sebagai penutup, saya akhiri dengan puisi yang pernah saya bacakan dalam sebuah event Hari Tanpa Tembakau Sedunia:

Apa yang salah 
pada tanaman tembakau dan cengkeh 
yang sudah jelas-jelas 
merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa?

Bukankah lebih elegan jika mengatakan: 
"Silahkan merokok 
tapi upayakan untuk dapat 
mengurangi porsi pemakaian 
yang tidak berlebihan."

Anggaplah saja rokok itu sebagai
teh dan kopi
jika disantap dengan porsi yang berlebihan 
akan berdampak tidak baik bagi kesehatan.

Oleh Tuhan Yang Maha Esa
tanah di negeri Indonesia
diberi anugerah kekayaan Sumber Daya Alam
tembakau dan cengkeh melimpah ruah
jika rokok murah di Indonesia, 
ini maklum!

Oleh Tuhan Yang Maha Esa
tanah di negeri Australia
miskin oleh kekayaan Sumber Daya Alam
tembakau dan cengkeh saja harus import
jika rokok mahal di Australia, 
ini maklum!

Apa alasan cukai rokok dinaikkan?
Apakah alasan demi kesehatan?
Apakah demi kesehatan harus ikhlas membunuh
jutaan petani tembakau dan cengkeh?
Apakah demi kesehatan harus ikhlas membunuh
jutaan tenaga kerja menjadi penganggur?

Apa alasan cukai rokok dinaikkan?
Apakah alasan demi kesehatan?
Padahal hancurnya kesehatan manusia
akibat polusi asap beracun yang keluar
dari kendaraan bermotor?

Apa alasan cukai rokok dinaikkan? 
Apakah alasan demi kesehatan?
Padahal hancurnya kesehatan manusia
akibat radiasi yang keluar 
dari signal handphone?

Apa alasan cukai rokok dinaikkan?
Apakah alasan demi kesehatan?
Padahal hancurnya kesehatan manusia
akibat bahan zat kimia pengawet
yang dihasilkan dari makanan instan?

Lantas mengapa tembakau dan cengkeh 
yang sudah jelas-jelas 
merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa
dijadikan kambing hitam
dari kehancuran itu semua?

Apakah setelah cukai rokok dinaikkan
akan menjamin masyarakat tidak merokok?
Tentunya yang merokok tetaplah merokok
tanpa harus membeli rokok instan bercukai
akan beralih ke tembakau dan cengkeh rajangan
melinting sendiri kembali ke tempo doeloe.

Bagaimana dengan nasib jutaan petani
akibat kehilangan industri rokok yang gulung tikar?
Bagaimana dengan nasib jutaan buruh
akibat kehilangan industri rokok yang gulung tikar?
Bagaimana dengan nasib para istri
akibat jatah uang belanja yang diterima berkurang
karena kebutuhan para suami merangkak naik
akibat cukai rokok merangkak naik?

Di satu sisi ketika mereka yang anti merokok 
menempatkan kesehatan di atas segalanya,
di sisi lain 
menggunakan kendaraan bermotor
yang sudah jelas asap kendaraan bermotor
lebih sangat-sangat berbahaya
dari pada sekedar asap rokok?
di sisi lain
menggunakan fasilitas handphone
yang sudah jelas radiasi signal handphone
lebih sangat-sangat berbahaya
dari pada sekedar asap rokok?

Ini sama saja 
mencaci-maki para maling sandal di masjid 
menggerutu para pencuri mangga di kebun tetangga
tapi menjunjung kehormatan kaum koruptor 
yang menimbun hartanya di luar negeri.

Apakah kita harus menggerutu
kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang terlanjur menciptakan
tembakau dan cengkeh?
Bagaimana intropeksi kita
yang sudah terlanjur menciptakan
kendaraan bermotor, handphone
rumah-rumah kaca dan makanan instan?


Salam,
Joe Hoo Gi

 
Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *