Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Sabtu, 26 November 2016

Membedah Butiran Telur Dalam Keranjang



Membedah butiran telur dalam keranjang 
pasti ada satu, dua, tiga telur 
yang busuk dan retak 
dalam setiap sejarah revolusi 
perlawanan kaum sipil di Indonesia 
meskipun dibungkus rapi 
dalam bingkai Demokrasi 
selalu saja ada konspirasi skenario 
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.


Petaka amuk berdarah anak bangsa 1965 
hingga diterbitkan Surat Sebelas Maret 
sebagai alat legitimasi prahara 
yang menelan 89 juta lebih nyawa anak bangsa
sampai jatuhnya Sukarno dari kursi Presiden  
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario 
 peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka huru-hara berdarah 15 Januari 1974

hingga diberhentikannya Jenderal Sumitro 
sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban
sampai dicopotnya Letjend Soetopo Juwono 
sebagai Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara
konon menurut tinta sejarah Indonesia
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka muntahnya peluru misterius berdarah 1982 
yang mengekekusi mati para bromocorah bertato 
 tanpa melibatkan proses peradilan
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer 
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka aksi Tanjung Priok berdarah 1984 
hingga pengeboman candi Borobudur dan BCA 1985 
sampai diadilinya Letjend Harsono Rekso Dharsono
yang kesemuanya rentetan aksi peristiwa 
penolakan Asas Tunggal Pancasila 
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka pembunuhan aktivis 
seorang buruh bernama Marsinah 
seorang wartawan bernama Udin 
seorang penggiat ham bernama Munir
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Petaka huru-hara berdarah 27 Juli 1996 
tragedi penculikan para aktivis 1997 
hingga huru-hara berdarah 1998 
sampai mundurnya Suharto dari kursi presiden
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya.

Petaka tidak dipatuhinya Dekrit Presiden 
hingga terusirnya Gus Dur dari Istana Negara 
konon menurut tinta sejarah Indonesia 
telah diakibatkan oleh konspirasi skenario  
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya. 

Lantas dalam aksi 4 November 2016
(dan mungkin) sampai aksi 2 Desember 2016 
apakah murni aksi bela Islam 
oleh kaum sipil ulama? 
ataukah diam-diam ada konspirasi skenario 
peranan sistematis massif elite (purnawirawan) militer
yang serta merta terkupas tuntas 
terlibat di dalamnya?

Wallahua'lam bish-shawabi 
saya akan menunggu sejarah 
untuk menoreh catatannya kembali. 


Salam,
Joe Hoo Gi

Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *