BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Kamis, 15 Desember 2016

Mengenang Sosok Seorang Sahabat Bernama Gun Jack


Ketika saya masih mahasiswa angkatan 1987 di Universitas Janabadra Yogyakarta, tempat kediaman kost pertama saya tiada lain di kampung Badran. Mengapa saya memilih kampung Badran? Karena lokasinya tidak jauh dari kampus saya, cukup di tempuh dengan jalan kaki sekitar kurang lebih delapan puluh delapan ayunan langkah kaki jika saya tak salah menghitung jarak dari kediaman kost saya hingga ke tempat kampus saya. 


Di kampung Badran ini lah saya banyak kenal dengan masyarakat pribumi setempat, dari mulai anak-anak, muda-mudi hingga kalangan orangtua. Maklum saya paling suka blusukan dan kalau sudah blusukan lagi-lagi saya tidak mau memilih-milih kasta dan strata, apa lagi saya tertarik dengan kesederhanaan dan kerja keras mereka yang pantang menyerah meski tanpa skill, kapital dan ijazah sekolah. Bekerja apa saja dicapainya agar kebutuhan hidup tidak lekas redup dari melakoni menjadi penyemir sepatu, bandar dadu atau ciliwik di pinggiran lokalisasi, jual gorengan keliling kampung, copet di stasiun Tugu, mengemis, tukang becak, pembantu rumah tangga, melacur, maling, pemalak dan seterusnya. 

Bukan menjadi rahasia publik pada waktu itu, jika kampung Badran dikenal sebagai wilayah underground atau tempat tinggal kaum kusam, kaum marginal, kaum miskin kota. Bagi masyarakat yang ada di luar kehidupan marginal mungkin menganggap Badran sebagai kampung yang tidak nyaman buat kaum establishment sehingga secepatnya bisa pindah mencari kampung lain yang memiliki adat istiadat yang bisa diterima oleh kalangan establishment perkotaan. 

Tapi sebaliknya bagi mereka yang ingin merasa dekat dengan wong cilik termasuk segala kostum dan atribut kesederhanaannya yang berhubungan dengan pangan, papan, sandang, pendidikan, methode berpikir dan pekerjaan cukup dipasrahkan kepada kehidupan yang serba mengalir. Konkretnya, Badran lah yang telah menempa saya tentang kemajemukan strata sosial yang ada. 

Enam tahun saya bertahan untuk tinggal sebagai anak kost di Badran. Selama enam tahun itu lah saya memiliki banyak kawan di kampung Badran. Tapi di antara semua kawan itu, saya merasa kental bersahabat dengan seorang pemuda kampung yang bernama Gunawan yang acap dipanggil dengan sebutan Gun, tapi ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Jack sebagai plesetan nama Joko. 

Hubungan saya dengan Gunawan hanya sebagai kawan berdiskusi sebab kalau sudah bertemu selalu bawaannya mau berdiskusi. Berdiskusi apa saja tentang paradgma Islam beserta variannya, lintas agama, kiprah peran Suharto dalam rezim otoriternya, filsafat Marx dan sebagainya. Ngalor ngidul yang ujung-ujungnya tak terasa kami sudah menghabiskan beberapa gelas kopi dan puluhan batang rokok kretek. Kalau sudah berdiskusi bawaannya pasti lupa waktu, berdebat semalam suntuk. Mengapa kami tahan dalam berdiskusi? Selain karena kami suka bertukar pikiran, tentunya aroma nikotin rokok dan segelas jumbo kopi panas yang putus nyambung telah membuat kami bertahan untuk sampai lupa waktu. 

Selain sebagai kawan diskusi, saya dan Gunawan memang punya bakat yang sama yaitu bermain sekak alias catur. Nah kalau sudah bertanding sekak, maka segalanya akan menjadi lupa ya lupa makan, ya lupa mandi dan lupa-lupa lainnya. Uniknya kalau merokok dan menyeduh kopi tiada pernah ada kata lupa. Masih kuingat dulu Gunawan suka Djarum Filter, sedangkan saya Gudang Garam Filter. Tapi kalau pas tidak ada duit ya tabi'at mulut asbak tetap berlaku, apa pun merk rokoknya tak pernah menolak jika sudah tanggung bulan. Sehari kami bisa menghabiskan tiga sampai lima bungkus rokok. Maklum saat itu rokok masih sangat-sangat murah. 

Enam tahun saya bergaul dengan Gunawan, meskipun tampak kami mesra bersahabat, tapi saya tidak tahu apa pekerjaannya dan apa pendidikannya. Tapi menurut informan beberapa kawan kuliah saya kalau Gunawan itu mahasiswa angkatan tua Fakultas Hukum Universitas Janabadra. Begitulah yang terjadi, cukup berkawan baik tanpa terlalu dipusingkan dengan primordial dan latar belakangnya. Begitulah enam tahun saya berkawan dengan seorang pemuda kampung Badran yang disegani di sana-sini tapi saya tidak pernah tahu mengapa dia disegani di sana-sini. Selain faktor keluguanku yang menjadi kendala sehingga saya tidak pernah menanyakan kepadanya perihal pekerjaan dan pendidikannya, dan juga faktor kebiasaan saya bilamana siapa saja orang yang sudah merasa baik berkawan dengan saya maka persetan dengan segala perihal yang melekat pada latar belakangnya.

Tapi semenjak saya pindah kost meninggalkan kampung Badran, maka saat itu lah saya jarang bergaul dengan Gunawan. Faktor kesibukan saya sebagai mahasiswa dan aktivis waktu itu telah membuat jarak hubungan persahabatanku dengannya. Demikian pula, Gunawan juga intens sebagai aktivis di Partai Persatuan Pembangunan.Tapi ketika saya diwisuda untuk mengakhiri karierku sebagai mahasiswa bongkokan di kampus, saya masih dapat bertemu dengannya meski tak lebih dari 30 menit saja. 

Dari perkembangan waktu selama berpuluh-puluh tahun, saya tidak tahu jika ternyata kawan baik saya itu adalah Gun Jack yang banyak diberitakan banyak orang. Antara percaya dan tak percaya, saya sempatkan untuk mampir ke Badran untuk bisa bertemu dengan Gunawan alias Gun Jack, kawan diskusi dan kawan bertanding catur. Tapi betapa sulitnya saya bisa bertemu dengannya. Bolak-balik pun tak pernah bertemu. Hingga mendapat kabar jika dia sudah meninggalkan semuanya tanpa terkecuali, termasuk meninggalkanku.Tak ada pesan apa-apa kecuali kenangan yang kutulis via catatan harianku ini. 

Selamat jalan Gunawan, eh Gun Jack. 


Jogjakarta, 5 Agustus 2012



(Tulisan ini saya angkat dari Buku Harian saya. Mengapa tulisan ini mendadak saya tulis kembali? Sebab berawal dari artikel yang ditulis oleh Dea Karlina berjudul 'Bapakku Gun Jack, Preman Terbesar Yogyakarta' yang dimuat di Vice.com sehingga saya menjadi teringat kembali perjalanan hidup saya dengan mendiang seorang preman Jogjakarta bernama Gun Jack)


Salam,
Joe Hoo Gi




Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *