Bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan Atlit bisa bergurau, Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan. Tapi Pluralis dan Anti Pluralis tak bisa bertemu (Ahmad Wahib)

Jumat, 20 Januari 2017

Mengenang Peristiwa Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

Maksud dari tulisan saya ini, Mengenang Peristiwa Amuk 23 Mei 1997 Di Banjarmasin, hanya sekedar berbagi nostalgia dari kesaksian saya untuk mengenang lembaran peristiwa sejarah 19 tahun yang silam betapa kekuasaan Orde Baru yang dibangun secara otoriter dan anti demokrasi selama 32 tahun telah membuat luka-luka penindasan yang dialami oleh segenap para anak bangsa dibiarkan semakin lebar menganga sehingga menjadi borok yang sakitnya terasa seperti jeritan amuk massa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di Banjarmasin. Semoga tulisan ini dapat menjadi intropeksi dan refleksi, betapa kekuasaan yang dibangun secara otoriter dan anti demokrasi justru akan menuai badai di kelak kemudian hari. Semua tulisan ini merupakan copy paste dari catatan harian saya.


Jum’at, 23 Mei 1997

Ketika siang menjelang sore hari mendadak listrik padam. Ternyata padamnya listrik sengaja dipadamkan oleh PLN. Tampak dari celah jendela rumah kontrakanku, asap hitam mengepul dari jarak kejauhan. Aku berpikir rumah siapakah gerangan yang mengalami kebakaran? Sebab sudah menjadi pemandangan sehari-hari kalau di Banjarmasin mengalami kebakaran rumah. Bahkan kebakaran hutan pun kadang asapnya dibawa oleh udara hingga terasa di kota.

Hingga sampai senja hari listrik pun masih padam. Dari kejauhan masih kulihat, kobaran api masih terus menyala-nyala membumbung di atas langit-langit kota. Karena penasaran, saya langsung bertanya kepada salah satu warga yang lewat di depan rumah kontrakanku, kebetulan warga itu tidak lain Ketua RT. Menurut keterangan Bapak Ketua RT, kobaran api itu berasal dari terbakarnya pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan malam akibat kerusuhan yang dilakukan oleh massa simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di antara percaya dan tidak saya langsung checking sendiri dengan jalan kaki menuju ke tengah kota, mengingat hari ini adalah jadwal terakhir kampanye Golongan Karya (Golkar) dan bukan jadwal kampanyenya PPP, lantas mengapa massa simpatisan PPP turut terjun berkampanye? 

Di sepanjang jalan menuju tengah kota, saya menyaksikan keberingasan para anak bangsa dari kalangan pemuda yang membawa atribut PPP dan senjata clurit (senjata khas Madura) menggunakan sepeda motor berarak-arakan sepanjang arah yang berbeda-beda dan ada pula yang berlarian ke sana kemari, berteriak-teriak kesetanan sembari terus tangannya mengacung-acungkan clurit. Saya masih terus berjalan kaki meski dicekam dengan rasa takut dari histeria amuk ini. Apakah peristiwa amuk rakyat yang belum lama terjadi di Tasikmalaya, Situbondo, Rengasdengklok dan Pekalongan juga akan bergilir ke Banjarmasin? Apakah ini pertanda kekuasaan Suharto akan segera berakhir sebagaimana yang pernah diramal oleh Permadi? Untuk melihat postingan tulisan saya yang membahas perihal ramalan politik Permadi dapat di klik disini.

Kakiku berhenti tepat di depan kantor Banjarmasin Post. Tampak kulihat keberingasan massa pemuda dari simpatisan PPP melakukan aksi amuk pembakaran terhadap bangunan gedung perbelanjaan, perkantoran, hiburan malam dan tempat ibadah milik non muslim. Menurut kawan saya dari wartawan Banjarmasin Post, keberingasan massa pemuda dari simpatisan PPP yang berjumlah ribuan orang itu berasal dari masyarakat miskin kota. Aksi amuk pembakaran ini terus meluas dan tidak ada kekuatan pun untuk bisa menghalaunya. Mobil kebakaran yang kedapatan mau memadamkan api malah dihalau massa dan lantas ramai-ramai dijungkirbalikkan di tengah jalan. Di setiap jalan raya massa pemuda beringas mengacung-acungkan jari telunjuk atau jari jempolnya sebagai simbol PPP. Jika kebetulan kedapatan ada orang yang tidak mengacungkan jari simbol PPP, maka orang tersebut akan ditebas perut atau lehernya dengan senjata clurit.

Gedung bangunan yang pertama kali dibakar oleh amuk massa pemuda adalah kantor DPD.Golkar. Bendera merah putih yang berkibar di depan kantor DPD. Golkar diturunkan, kemudian diganti dengan bendera PPP. Beberapa perempuan yang kedapatan menggunakan kaos bergambar Golkar pun turut menjadi bulan-bulanan amukan massa. Mereka dipaksa untuk melepaskan kaosnya di depan umum sehingga kondisi para perempuan itu hanya mengenakan bra atau kutang sebagai penutup aurat dadanya.

Konon peristiwa amuk massa terjadi ketika raungan mesin yang keluar dari knalpot motor yang diciptakan oleh konvoi kampanye simpatisan Golkar melintas di depan masjid yang bertepatan dengan sholat Jum’at. Raungan mesin motor milik massa simpatisan Golkar ini diinterpretasikan oleh sebagian umat yang sedang menjalankan sholat Jum’at merupakan tindakan pelecehan atau penistaan terhadap kaum muslim yang diidentikkan sebagai simbol PPP. Hal inilah yang membuat massa menjadi marah dan terprovokasi.

Tampaknya yang menjadi kesulitan pihak aparat keamanan kepolisian yang saya kenal menceritakan kepada saya betapa aparat kepolisian mengalami kesulitan untuk meredam dan menghalau kerumunan amuk massa ini disebabkan jumlah massa yang sangat signifikan jumlahnya dan terbagi-bagi ke berbagai tempat penjuru kota. Misal secara bersamaan waktunya ada kerumunan massa yang melakukan amuk pembakaran kantor DPD Golkar dan beberapa bangunan gereja. Di sisi lain ada kerumunan massa melakukan amuk pembakaran dan penjarahan di Banjarmasin Plaza, Sarikaya, Lima Cahaya dan gedung bioskop Banjarmasin Theatre. Di sisi lain ada kerumunan massa melakukan amuk pembakaran dan penjarahan di Junjung Buih Plaza dan Hotel Kalimantan. Di sisi lain ada kerumunan massa melakukan amuk pembakaran dan penjarahan di Mitra Plaza.

Di sepanjang jalan mobil-mobil dijungkir-balikkan kemudian dibakar secara beramai-ramai. Sesama anak bangsa bisa saling memangsa jika dirasakan bukan bagian dari kelompoknya. Main tebas sana-sini telah menunjukkan betapa hukum rimba yang telah berkuasa malam ini. Dalam perjalanan pulang ke rumah pun saya harus mengacungkan jari jempol sebagai pertanda simpatisan PPP agar terhindar dari kekerasan aksi amuk massa. Aparat kepolisian hanya dapat menyaksikan aksi amuk massa ini tanpa dapat berbuat apa-apa.

Tengah malam, listrik masih padam, tapi langit terasa terang oleh temaram bulan purnama. Kondisi kota begitu dicekam teror dan nuansa horor mirip dalam cerita Resident Evil. Hari ini betul-betul kurasakan betapa hukum telah bermain petak umpat, bersembunyi entah di mana. Tapi kudengar jika aparat keamanan sudah dialihkan dari kepolisian kepada militer, sehingga tepat pada pukul 00.00 WITA militer sudah menguasai keadaan.

Sabtu, 24 Mei 1997

Kompas hari ini memberitakan jika kerusuhan sosial tidak hanya terjadi di Banjarmasin, tapi di Bangil dan Ciputat pun juga terjadi kerusuhan amuk massa. Tapi, menurut Kompas, kerusuhan amuk massa yang terbesar terjadi dalam sepanjang sejarah Orde Baru hanya terjadi di Banjarmasin.

Banjarmasin Post hari ini tidak terbit. Hingga sampai sekarang kondisi listrik masih padam. Ada kabar dari kawan saya yang bekerja sebagai wartawan di Banjarmasin Post, jika kantor redaksi Banjarmasin Post diteror melalui telepon gelap, kalau kantornya akan dibakar bila Banjarmasin Post memanipulasikan berita.

Pukul 09.30 WITA, saya meluncur ke kantor pos. Ternyata kantor pos pun turut berlibur. Banyak kulihat aparat keamanan militer masih berjaga-jaga di seputar jalan utama. Tampak kulihat Hotel Kalimantan dan Junjung Buih Plaza masih berkobar mengeluarkan asap tebal hitam. Mobil pemadam kebakaran pun masih aktif memadamkannya.

Menurut informasi kawan-kawan saya yang ada di asrama kepolisian Teluk Dalam menceritakan kepada saya betapa aparat gabungan dari kepolisian dan militer tidak bisa tegas menghalau kerusuhan sosial disebabkan tidak ada surat perintah ketegasan dari Kapolda dan Pangdam. Tegasnya, Kapolda dan Pangdam tidak mau mengambil resiko sehingga yang terjadi kerusuhan sosial menjalar meluluh-lantakkan kota Banjarmasin. Mereka pun menceritakan pengalamanya kemarin malam ketika mendapat tugas tepat di depan Mitra Plaza betapa mereka hanya bisa melihat keberingasan massa melakukan penjarahan tanpa bisa berbuat apa-apa. Hasil dari jarahannya yang berkarung-karung ditaruh di gerobak-gerobak dorong dan perahu-perahu getek seperti orang mau kulakan barang dalam jumlah besar.

Malam pukul 20.00 WITA ketika mau perjalanan pulang ke Kebun Sayur, mendadak saya dihentikan oleh razia KTP yang dilakukan oleh pihak aparat militer dari Korem. Menurut para petugas yang berpakaian loreng lengkap dengan senjata api laras panjang, razia KTP ini merupakan pelaksanaan adanya jam malam yang dimulai pukul 20.00 sampai 04.00 WITA atas perintah langsung dari Pangdam Mayjen TNI Namuri Anoem S.

Memang saya rasakan betapa kota Banjarmasin betul-betul seperti kota mati yang mirip dengan kota Racoon City yang ada dalam cerita film Resident Evil. Meski waktu masih menunjukkan pukul 20.00 WITA, tapi terasa seperti tengah malam saja. Kalau pun ada mobil yang berani melintas berarti mobil dari aparat kepolisian dan TNI.

TVRI dalam acara Dunia Dalam Berita juga memberitakan seputar kerusuhan sosial yang terjadi pada  tanggal 23 Mei di Banjarmasin. Aneh, tadi menurut para petugas dari Korem yang melakukan razia KTP ada perintah jam malam, tapi menurut Pangdam Mayjen TNI Namuri Anoem S ketika dalam wawancaranya di TVRI menjelaskan kalau di Banjarmasin tidak ada jam malam.

Malam ini atas kesadaran warga pemuda Kebun sayur diadakan siskamling. Ternyata tidak hanya di Kebun Sayur saja tapi di tiap-tiap kampung RT dan RW di Banjarmasin para warga yang dikoordinatori oleh Ketua RT turut membantu pihak keamanan menjadi benteng keamanan di lingkungannya masing-masing. Adanya sistem siskamling ini pasca kerusuhan sosial ini membuat saya semakin dekat dengan warga sekitar.

Minggu, 25 Mei 1997

Pagi sekitar pukul 07.30 WITA saya  melakukan jalan-jalan sendirian untuk menyusuri kondisi kota pasca kerusuhan sosial dengan menggunakan sepeda ontel. Di tengah jalan Hassanudin saya mampir di kios penjual koran dan majalah untuk membeli tabloid Adil. Tampaknya harga koran melonjak tiga kali lipat lebih dari biasanya. Bayangkan Banjarmasin Post yang sebelum kerusuhan sosial hanya Rp.600,-. Tapi pasca kerusuhan sosial melonjak menjadi Rp.2000,-

Ketika saya menyusuri jalan Ahmad Yani, seluruh pertokoan hanya mengalami kerusakan yang cukup parah tapi tidak sampai dibakar. Ketika mau memasuki jalan ke Mitra Plaza yang konon hangus ludes dibakar dan dijarah massa, ternyata jalan masih ditutup dan para aparat kepolisian dan TNI masih berjaga-jaga. Saya pun kemudian memasuki kelurahan Kelayan sebuah kawasan underground perkampungan padat penduduk tempat mangkalnya masyarakat miskin kota. Kelurahan Kelayan juga dikenal sebagai perkampungan basis PPP. Ketika saya menyusuri perkampungan ini, tidak satu pun kutemukan warga yang berani keluar dari rumah, kecuali aparat TNI dari Kodim masih bersiaga di jalan-jalan.

Intisari yang dapat saya rangkum dari berita Banjarmasin Post edisi 25 Mei 1997. Korban tewas berjumlah 65 orang. Semua korban yang tewas sudah tidak dapat diidentifikasi lagi karena hangus terpanggang api ketika sedang melakukan penjarahan di Mitra Plaza. Korban luka-luka yang masih dirawat di RS.Ulin, RS.Islam dan RS.Suaka Insan berjumlah 90 orang, termasuk Drs.Didik Trio Marsidi, wartawan Banjarmasin Post. Semua korban luka-luka disebabkan lemparan batu, pecahan kaca, bacokan senjata tajam dan pukulan aparat keamanan. Korban penangkapan dari aparat keamanan pun berjumlah 181 orang. Konklusinya, akibat kerusuhan amuk massa ini banyak orang kehilangan keluarganya, banyak buruh kehilangan lapangan pekerjaannya dan banyak warga kehilangan tempat tinggal. Perihal mengenai para pihak yang kehilangan anggota keluarganya dalam kerusuhan amuk massa 23 Mei, apakah mereka termasuk dari 181 tersangka yang diamankan polisi ataukah mereka termasuk di dalam salah satu dari 65 korban tewas terpanggang api di Mitra Plaza? Sedangkan perihal mengenai korban yang kehilangan tempat tinggal, ternyata kerusuhan sosial 23 Mei telah turut membakar kawasan pemukiman penduduk di jalan Pangeran Samudera.

Senin, 26 Mei 1997

Korban tewas dalam peristiwa amuk di Banjarmasin tampaknya terus bertambah. Kemarin korban tewas 65 orang, sekarang membengkak menjadi 135 orang. Menurut data yang dihimpun oleh Banjarmasin Post, korban yang tewas hangus terbakar dan tidak dapat diidentifikasi di Mitra Plaza berjumlah 131 orang, korban yang hangus terbakar di Lima Cahaya berjumlah 2 orang dan korban penikaman berjumlah 2 orang. Sedangkan korban luka-luka juga membengkak yang semula hanya 90 orang menjadi 107 orang. Korban luka-luka yang dirawat di RS Islam berjumlah 20 orang, di RS Suaka Insan berjumlah  14 orang dan di RS Dr.Soeharsono berjumlah 5 orang. Semua korban sebagian besar adalah masyarakat miskin kota yang melakukan penjarahan. Sedangkan menurut pengaduan masyarakat di kepolisian yang kehilangan anggota keluarganya sejak terjadinya peristiwa Amuk 23 Mei 1997 tercatat ada 164 warga yang dinyatakan hilang.

Ada catatan keanehan yang dapat saya petik dari kondisi para korban peristiwa amuk 23 Mei. Pertama, jika tercatat ada 164 warga yang dinyatakan hilang adalah yang termasuk di dalam 135 korban yang tewas hangus terbakar, lantas di manakah jejak dari sisanya yang berjumlah 29 korban hilang lainnya? Apakah dari 29 korban yang dinyatakan hilang oleh pihak keluarganya itu termasuk di dalam 181 tersangka kerusuhan yang diamankan pihak kepolisian? Kedua, mengapa kondisi para korban yang terpanggang api di Mitra Plaza bisa saling berpelukan dan berkumpul menjadi satu? Ketiga, mengapa para korban yang terpanggang api di Mitra Plaza tidak dilakukan visum et repertum, apakah kematiannya memang terjebak dalam kobaran api ataukah ada kemungkinan korban ditembak mati ketika sedang melakukan penjarahan? 

Pagi sekitar pukul 9.00 WITA saya ke kantor pos menggunakan jasa angkutan ojek untuk kirim surat kepada keluarga saya perihal kondisiku yang baik-baik saja di sini. Menurut tukang ojek yang kutumpangi, betapa pasca peristiwa amuk di Banjarmasin banyak buruh kehilangan pekerjaannya akibat perusahaan tempat mereka bekerja ludes dibakar. Sedemikian juga dengan tukang ojek yang kehilangan penumpang akibat pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan malam juga ludes dibakar.

Menurut saya, peristiwa amuk di Banjarmasin dibutuhkan intropeksi kepada semua pihak tanpa terkecuali betapa peristiwa amuk ini sejujurnya sistem lah yang menciptakannya. Siapa yang telah menciptakan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, pengangguran akibat korupsi, kolusi dan nepotisme yang terus dibudi-dayakan selama 32 tahun? Kondisi sistem yang corat-marut ini telah mengingatkan saya kepada pesan tertulis dari Ir.HM.Sanusi yang dimuat di Kompas edisi 1 November 1976 berjudul Kedewasaan Berpolitik dan Memilih Pemimpin. Kurang berfungsinya wakil rakyat di DPR akan menimbulkan parlemen jalanan. Ketika parlemen jalanan dilarang, maka otomatis pers akan memainkan peranannya. Tapi ketika pers sebagai kontrol juga mengalami pembredelan, maka otomatis fungsi pamflet atau surat kaleng akan mengambil peranannya. Tapi jika pamflet tidak memberi perubahan apa-apa, maka otomatis penyaluran melalui revolusi amuk massa. Ini adalah hukum kausalitas politik yang tidak dapat dihindari dan dapat dipelajari dari sejarah.

Malam, saya masih turut ronda bersama warga setempat. Entah sampai kapan himbauan jam malam akan dicabut? Siskamling diadakan dari mulai pukul 20.00-04.00 WITA. Banyak isu yang beredar seperti adanya aksi pembakaran terhadap rumah-rumah warga penduduk. Menurut  beberapa keterangan warga di sini, para perusuh pada peristiwa 23 Mei sebagian besar dilakukan oleh kaum miskin kota yang beretnis Madura, bukan etnis pribumi Banjar. Bahkan tengah malam, patroli polisi menangkap dua warga berasal dari Madura yang tinggal di Kebun Sayur tempat di mana aku tinggal sekarang. Akses ke pelabuhan Trisakti pun sempat diblokir oleh aparat militer yang telah melarang warga berasal Madura meninggalkan kota Banjarmasin.

Salam,

Joe Hoo Gi


Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *