BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Jumat, 31 Maret 2017

Sembilan Belas Lebih Tiga Menit

Dua puluh tiga tahun 
dia bertahan sebagai teman. 
Mengisi setiap ruang kehidupan 
merajut lelah perjalanan
menelan setiap perbedaan 
menjadi cita rasa pengertian.
Suka duka adalah permainan 
yang paling mengasyikkan.
Jika cinta adalah lentera keabadian 
maka dibutuhkan ujian pembuktian.


Selasa tiga puluh satu Januari 
ketika siang dibalut mendung 
mendadak tanpa pertanda dan gejala 
dia mengalami kesulitan bernafas 
tubuh bermandikan keringat
sementara wajah semakin pucat pasi 
dia harus segera dilarikan 
ke Instalasi Gawat Darurat 
Di salah satu Rumah Sakit swasta 
di tengah pusat kota Jogjakarta.
Tim medis IGD hanya menyebut 
dia mengalami heart failure 
dan harus dilakukan penyelamatan 
ke ruang Intensive Coronary Care Unit. 

Celoteh bathinku tak pernah diam 
ngeyel tersungkur memohon:
Ya Allah, ya Rabbi 
Sang Maha Pencipta Kehidupan 
hamba terima ujian sebagai peringatan 
semoga badai yang menimpa hamba 
dapat cepat berlalu. 

Sembilan puluh enam jam lamanya 
dia masih terlelap dalam tidurnya, 
sementara suara berita di televisi 
yang tergantung di ruang tunggu 
masih saja berisik kudengar 
kegaduhan para anak bangsa sendiri 
akibat perbedaan warna keyakinan
tidak lagi sebagai rahmatan lil'alamin,
hanya airmata nyaris terkuras habis 
yang bisa kuberikan. 
Hanya doa permohonan bertubi-tubi 
yang bisa kupanjatkan 
dibalik tirai jendela kaca ICCU. 

Celoteh bathinku tak pernah diam 
ngeyel tersungkur memohon:
Ya Allah, ya Rabbi 
Sang Maha Pencipta Kehidupan
bangunkan dia dari tidur lelapnya 
sebab sudah sembilan puluh enam jam 
dia terlelap enggan menyapa hari. 

Sabtu empat Pebruari 

ketika senja telah dibalut malam 
seorang perawat iccu memanggilku
mengabarkan kondisi terburuk dari pasien
konon langkah upaya medical dilakukan 
agar Takdir dapat segera ditunda. 
Kecemasanku bergolak di semua sudut ruangan 
tanpa daya apa yang harus aku perbuat 
apalagi tidak kulihat satu pun dokter 
kecuali hanya beberapa perawat.
Apakah mungkin kebiasaan kesigapan 
dari kepedulian dokter di rumah sakit ini 
disebabkan oleh kondisi kehadiranku 
yang hanya mengandalkan kepada BPJS? 
Wallahu a'lam bish-shawabi.
Kepanikan terus menggerutu dalam jiwa.

Celoteh bathinku tak pernah diam 
ngeyel tersungkur memohon:
Ya Allah, ya Rabbi
Sang Maha Pencipta Kehidupan 
apa yang bisa aku perbuat 
dalam keterbatasanku sebagai manusia
kecuali hanya airmata terkuras habis 
bertubi-tubi permohonan doa-doaku 
tersungkur dalam kepasrahan? 

Sembilan belas lebih tiga menit 
harapan tidak lagi menemaniku 
menyelinap pergi tanpa pamit
tiada pernah kembali lagi 
meninggalkanku dalam kesendirian 
di ujung ketakutan yang paling sunyi
kalau memang kehendak Tuhan 
adalah otoritas Takdir yang terjadwal 
maka apa yang bisa kuperbuat? 
Sementara airmata terkuras habis 
bertubi-tubi permohonan doa-doaku 
terbentur tebalnya tembok Takdir
kecuali hanya pasrah dan kalah. 

Celoteh bathinku tak pernah diam 
ngeyel tersungkur memohon:
Ya Allah, ya Rabbi 
Sang Maha Pencipta Kehidupan
meski Takdir -Mu sudah final 
tapi aku tetap menunggu jawaban -Mu
dari permohonan doa-doaku kepada -Mu 
agar Kamu memang pantas disebut
sebagai Maha Pengasih dan Penyayang.


Salam,
Joe Hoo Gi

Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *