BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Kamis, 20 April 2017

Ahok dan Democracy Failure

Sejak awal sebelum Ahok di-Almaidah-kan, jauh hari saya sudah memprediksikan melalui tulisan saya (klik di sini untuk membacanya kembali) perihal score yang bakal terjadi pada pasca pertarungan Pilkada di DKI Jakarta 2017. Prediksi saya betapa di satu sisi Ahok akan mencapai kemenangan yang mustahil untuk dikalahkan oleh para rivalnya jika bertarung secara fair tanpa melibatkan pola sektariansime, tapi di sisi lain jika bertarung secara affair dengan melibatkan pola sektarianisme, maka posisi Ahok yang multi-minoritas akan mencapai kekalahan dan mustahil untuk bisa mencapai kemenangannya. 



Bila tidak melibatkan pola sektarianisme, maka saya masih mempunyai keyakinan jika Ahok dalam pertarungannya di Pilkada DKI Jakarta 2017 sangat mustahil untuk dapat dikalahkan. Sebaliknya dengan melalui jalan methode democracy failure yang melibatkan pola sektarianisme di tengah sebagian bangsanya yang masih menggurita berurat berakar mendarah daging semangat anti multikulturalnya, maka sangat mustahil jika Ahok akan mencapai kemenangannya. 

Sejak awal Ahok memiliki kepribadian lahiriah permanen sebagai multi-minoritas yang disandangnya. Pada sistemik tyranny majority yang masih menggurita berurat berakar mendarah daging pada sebagian masyarakat Indonesia, siapa saja yang lahir dan dibesarkan sebagai manusia Indonesia berperanakan etnik Tionghoa dan beragama non muslim (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa), maka dia sudah menyandang kepribadian lahiriah permanen sebagai multiminoritas.

Meski menyandang sebagai multi-minoritas, tapi Ahok tidak merisaukan dan tidak mempedulikan predikat yang disandangnya, betapa Ahok tetap percaya diri kepada idealisme semangat kebangsaannya sebagai manusia Indonesia yang tunduk pada Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal IkaAhok tidak menyadari, betapa sistemik tyranny majority yang menjangkiti dari sebagian besar masyarakat Indonesia ternyata masih menggurita berurat berakar mendarah daging. Mereka akan tunduk kepada Pancasila dengan semoboyannya Bhinneka Tunggal Ika selama tidak menyangkut kepada dual icon minority, yaitu peranakan etnis Tionghoa dan non muslim. 

Semangat superhero yang dimiliki oleh Soe Hok Gie dan Yap Thiam Hien akan menjadi kandas keharuman namanya jika predikat multi-minoritas yang disandangnya mulai dibangkitkan  oleh para rival dari lawan-lawan politiknya untuk menilai kebenaran dan kesalahan dari ke dua sosok manusia Indonesia tersebut. Siapa saja yang membanggakan semangat superhero yang melekat kepada Soe Hok Gie dan Yap Thiam Hien, selama keharuman namanya tidak dicampuradukkan dengan kejumudan analisa berpikir yang tumbuh dari semangat kebencian multikultural untuk menilai keharuman nama dari sosok manusia Indonesia.

Seorang Patih Gajah Mada yang dapat mempersatukan Nusantara dengan Sumpah Palapa -nya akan tercatat keharuman namanya selama yang menjadi ukurannya adalah perbuatan an-sich dari Patih Gajah Mada. Tapi bila kejumudan analisa berpikir yang tumbuh dari semangat anti multikultural telah berperan tampil menilai sosok dari Patih Gajah Mada, maka yang terjadi perbuatan Patih Gajah Mada yang dapat mempersatukan wilayah Nusantara dengan Sumpah Palapa -nya tidak mempunyai peranan yang berarti apa-apa, jika Patih Gajah Mada dipandang sebagai non muslim yang beragama Hindu.

Lagu Indonesia Raya sebagai lagu wajib Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi kerdil makna semangat Nasionalismenya jika telah melibatkan kejumudan analisa berpikir yang tumbuh dari semangat anti multikultural untuk menilai lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman ternyata adalah komponis non muslim beragama Kristen dan konon teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertamakali oleh koran Sin Po yang non muslim juga.

Sejak awal mustahil Ahok dapat dikalahkan. Berbagai upaya seribu satu jurus yang dilakukan oleh para rival dari lawan-lawan politiknya untuk merobohkan Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta ternyata mengalami kegagalan. Semakin Ahok dizolimi oleh para rival dari lawan-lawan politiknya, maka semakin dekatnya Ahok dicintai oleh sebagian besar masyarakat DKI Jakarta. Konklusinya, Ahok tidak dapat ditumbangkan melalui upaya jurus issue Reklamasi, Sumber Waras, Penggusuran lokalisasi Kalijodo hingga sampai kepada karakter Ahok yang secara spontan mudah mengeluarkan kata-kata kotornya kepada siapa saja yang tidak sejalan dengan prinsip-prinisp universal yang dia perjuangkan. 

Upaya jurus maut untuk menumbangkan Ahok hanya ada satu jalan dengan memanfaatkan pola sektarianisme yang sudah menggurita berurat berakar mendarah daging dikalangan sebagian besar masyarakat Indonesia. Tentunya Ahok yang menyandang sebagai peranakan etnis Tionghoa dan non muslim dapat mudah dirobohkan dengan semangat anti multikultural yang melibatkan dual icon minority, yaitu peranakan etnis Tionghoa dan non muslim.

Ahok harus di-Almaidah-kan. Hanya dengan methode jurus maut inilah Ahok pasti tumbang. Di satu sisi, Ahok yang lahir sebagai orang Indonesia peranakan etnis Tionghoa sangat rentan jika dibully dengan memanfaatkan mithologis sebagai si Aseng yang anti pribumi. Issue hoax perihal 9 Naga Taipan yang berada di belakang Ahok sengaja dihembuskan oleh para rival. Padahal jika kita cerdas menelusuri jejak dari 9 Naga Taipan itu ternyata justru berada di belakang para rival lawan politik AhokDi sisi lainAhok yang non muslim beragama Kristen tentunya sangat rentan jika dibully dengan memanfaatkan mithologis sebagai si Kafir yang anti Islam. Kalau sudah menyangkut kepada issue si Aseng dan si Kafir, maka tentunya issue ini akan mendapat dukungan oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim pada umumnya dan masyarakat DKI Jakarta pada khususnya.

Uniknya, saya masih bisa menilai betapa fenomenal kekalahan Ahok hanya dapat terjadi di Indonesia. Tentunya feneomenal kekalahan Ahok ini tidak akan pernah terjadi di negara-negara Islam. Meskipun surah Al-Maidah 51 bersifat universal, tapi kenyataannya di negara-negara Islam seperti di Lebanon, Palestina, Pakistan, Turki, Senegal dan Mesir tidak pernah mempergaduhkan seorang non muslim untuk duduk sebagai pemimpin. 

Boutros-Boutros Ghali yang beragama Nasrani telah dipercaya duduk sebagai Menteri Luar Negeri di Mesir selama 14 tahun. Kamran Michael yang beragama Nasrani telah dipercaya duduk sebagai Menteri Perhubungan di Pakistan (2013-2016). Michel Sulaiman yang menganut Agama Nasrani dipercaya oleh rakyatnya yang mayoritas beragama Islam sebagai Presiden Lebanon (2008-2014) dan Michel Aoun yang Nasrani pun juga dipercaya sebagai Presiden Lebanon yang menjabat di periode sekarang. Februniye Akyol yang beragama Nasrani dipilih sebagai wakil walikota Mardin di Negara Turki. Janet Mikhail yang beragama Nasrani dipilih sebagai walikota Ramallah di Negara Palestina. Leopold Sedar Senghor yang beragama Nasrani dipilih sebagai Presiden Senegal yang menjabat selama 20 tahun (1960-1980). 


Salam,
Joe Hoo Gi



Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *