BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Rabu, 03 Mei 2017

Tiga Catatan Koreksi Saya Untuk HTI dan Underbow -nya

Sampai sekarang saya tidak bisa memahami methode berpikir dari para aktivis yang berjuang dalam wadah ideologi dan organisasi masyarakat Hizbut Tahir Indonesia (HTI) dan underbow -nya. Methode berpikir HTI dan underbow -nya serba tumpang tindih, inkonsistensi dan sektarian. Inilah beberapa catatan koreksi saya perihal methode berpikir HTI dan underbow -nya yang saya anggap serba tumpang tindih, inkonsistensi dan sektarian. 



Pertama, HTI dan underbow -nya menolak methode perjuangan Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya pada dataran azas ideologi an-sich tapi cita-cita pola perjuangan PKI yang ingin mewujudkan cita-cita perjuangannya untuk mengubah sistem azas Negara Kesatuan Republik Indoneia (NKRI) sesuai azas ideologi sebagai azas tunggal adalah sama. Jika PKI bercita-cita ingin mengubah sistem negara sesuai Komunisme sebagai azas tunggalnya, sedemikian dengan HTI dan underbow -nya juga bercita-cita ingin mengubah sistem azas NKRI sesuai Syariat Islam atau menurut istilah HTI dan underbow -nya disebut dengan Daulah Khilafah. Konklusinya, PKI dan HTI dan underbow -nya meskipun memiliki perbedaaan ideologi yang krusial, tapi semangat perjuangan cita-citanya adalah sama-sama ingin melakukan perubahan sistem azas NKRI sesuai dengan azas ideologinya sebagai azas tunggal.

Kedua, HTI dan underbow -nya pada manifestonya dengan tegas menolak sistem Demokrasi. Padahal sistem Demokrasi lah yang telah menempatkan HTI dan underbow -nya sebagai ormas yang legitimated sesuai dengan hak kebebasan berserikat dan berkumpul. Jika sistem negara ini otoriter anti demokrasi, maka jangan harap HTI dan underbow -nya bisa survive. Beruntunglah HTI dan underbow -nya hadir ketika NKRI tidak berada dalam sistem Kekuasaan Orde Baru yang otoriter anti demokrasi. HTI dan underbow -nya hadir ke tengah khayalak ketika NKRI telah terlepas dari sistem kekuasaan Orde Baru. Kerdilnya methode berpikir HTI dan underbow -nya yang paling krusial ketika di satu sisi mereka bercita-cita ingin mewujudkan sistem azas negara sesuai Daulah Khilafah, tapi di sisi lain pola perjuangan ideologis Hizbur Tahir mendapat penolakan dari negara-negara Islam seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Yaman, Tunisia, Maroko, Turki, Arab Saudi, Yordania, Suriah, Lebanon, Libya, Mesir, Pakistan, Irak, Bangladesh, Kyrgystan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan  dan masih banyak yang lainnya. Ironisnya, hanya negara-negara yang menganut sistem  Demokrasi seperti di Indonesia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia yang dapat menerima kehadiran Hizbut Tahir sebagai hak warga negara untuk berserikat dan berkumpul.

Ketiga, acapkali HTI dan underbow -nya dalam setiap aksi perjuangannya di satu sisi selalu merujuk dan menempatkan anti kekerasan (non violence) sebagai garis idelogis perjuangannya. Ironis padahal di sisi lain, HTI dan underbow -nya dalam setiap aksi perjuangannya selalu mengumbar kebencian terhadap perbedaan ideologis di luar HTI dan underbow -nya sebagai ideologi yang sesat, musyrik, haram, kufur, fasiq, munafik, thoghut, bid'ah,jahiliyah dan kafir yang wajib dimusuhi. Kalau perjuangan HTI dan underbow -nya telah menempatkan kebencian terhadap perbedaan ideologis yang multikultural di luar HTI dan underbow -nya sebagai musuh yang wajib diperangi, maka sama saja HTI dan underbow -nya telah melegalisasikan kekerasan antar anak bangsa sendiri yang multikultural sebagai jalan keluarnya. Semangat kebencian oleh HTI dan underbow -nya kepada perbedaan ideologis di luar HTI dan underbow -nya merupakan methode perjuangan memaksakan kehendak yang alur perjuangannya sama dengan yang dilakukan oleh perjuangan PKI.

Inilah ketiga catatan koreksi saya dalam memahami methode berpikir dan aksi perjuangan HTI dan underbow -nya selama ini. Fenomenal konflik yang mengakibatkan kegaduhan antar anak bangsa sendiri yang multikultural senantiasa disebabkan oleh methode berpikir dan aksi perjuangan dari suatu kelompok ormas seperti HTI, Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI) dan lain-lain yang telah menempatkan perbedaan ideologis di luar kelompok ideologisnya sebagai musuh yang harus diperangi. Bagaimanapun memaksakan kehendak dengan mengubah keaneka-ragaman warna pelangi menjadi keseragaman satu warna, maka justru akan menghilangkan makna definisi dari keindahan pelangi itu sendiri. 

Kini semua kembali kepada kemauan otoritas Negara. Pertama, Apakah Negara tetap menempatkan 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) sebagai acuan final otoritasnya untuk segera tidak lagi melakukan pembiaran terhadap HTI dan underbow -nya agar konflik kegaduhan perbedaan antar idelogis anak bangsa sendiri yang multikultural dapat segera diakhiri. Kedua, Apakah Negara tetap melakukan pembiaran terhadap kehadiran HTI dan underbow -nya yang rentan menyulut konflik antar anak bangsa sendiri di tengah bangsanya yang multikultural? Ketiga, Apakah para elite di tubuh HTI dan underbow -nya sendiri yang akan melakukan intropeksi dan perubahan pola berpikir perjuangannya  dari intoleran ke toleran sesuai semangat Ke-Nusantara-an yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana yang telah disepakati oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah agar peraudaraan sesama Muslim (Ukhuwah Islamiyah) antara HTI dan underbow -nya sebagai saudara muslim termuda dan NU sebagai saudara muslim tertua melalui Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) tidak saling memangsa antar saudara sendiri?

Salam,
Joe Hoo Gi

     
 Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *