BAGI KITA, TEIS DAN ATEIS BISA BERKUMPUL, MUSLIM DAN KRISTIANI BISA BERCANDA, ARTIS DAN ATLIT BISA BERGURAU, KAFIRIN DAN MUTTAQIN BISA BERMESRAAN. TAPI PLURALIS DAN ANTI PLURALIS TAK BISA BERTEMU (AHMAD WAHIB)

Senin, 05 Juni 2017

Merajut Kebangsaan Bersama Aliansi Bela Garuda


Meskipun Pancasila sebagai Azas Negara sudah berusia 72 tahun dan sudah menjadi Konsensus Nasional sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara, tapi kenyataan yang terjadi
hingga sampai hari ini ketika usia Reformasi berusia 19 tahun mendadak ada keinginan masif dari sebagian anak bangsa sendiri yang telah mengalami distorsi dan krisis kebangsaan yang lambat-laun jika perjuangan wacana mereka terus-menerus menggerus dalam pembiaran maka cepat atau lambat pasti akan menggurita sehingga dirasakan sangat mengancam Indonesia sebagai Negara Kesatuan yang multikultural. 


Betapapun Indonesia sebagai Negara Kesatuan multikultural yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang beraneka ragam budaya, etnik, ras, bahasa, agama dan kepercayaan akan sulit mengalami potensi perpecahan jika semua komponen anak bangsa tanpa terkecuali dapat menerima kebersamaan dalam perbedaan adalah bagian dari rahmatan lil'alamin. Tanpa kesepakatan untuk dapat memahami kebersamaan dalam perbedaan adalah bagian dari rahmatan lil'alamin, maka jangan harap Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi Semboyan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat surviveDibutuhkan kearifan bersama dari semua komponen anak bangsa tanpa terkecuali untuk turut menjaga dan merawat Kebhinnekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Munculnya pemahaman keyakinan dari sebagian anak bangsa sendiri yang diimplementasikan secara masif radikal melalui berbagai organisasi masyarakat dan media dakwah yang intinya selalu mengkritisi perbedaan di luar pemahaman keyakinannya bukan bagian dari rahmatan lil'alamin, tampaknya akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan semua elemen masyarakat yang masih memiliki kepedulian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia betapa kebersamaan dalam perbedaan adalah bagian dari rahmatan lil'alamin. Di satu sisi kita terus berkomitmen sebagai bangsa untuk tetap terus menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap survive dengan tetap memandang kebersamaan dalam perbedaan adalah bagian dari rahmatan lil'alamin, tapi di sisi lain masih ada sebagian dari anak bangsa sendiri yang berupaya menganggap kebersamaan dalam perbedaan bukanlah bagian dari rahmatan lil'alamin.

Setiap manusia lahir ke dunia kehidupan ini tidak dapat meminta dan mengetahui kelak mereka lahir dalam budaya, etnik, ras, bahasa, agama dan kepercayaan sebagai apakah yang bakal akan disandangnya sebab persoalan ini sudah masuk ke wilayah Takdir dari Rahasia Illahi. Konklusinya, setiap manusia dalam satu kelompok pasti memiliki keberagaman budaya, etnik, rasbahasa, agama dan kepercayaan yang sudah diperoleh sejak manusia lahir sehingga perbedaan yang tercipta dari Takdir Rahasia Illahi inilah merupakan bagian dari rahmatan lil'alamin yang suka tidak suka wajib diterima dan disyukuri.

Kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini ada sebagian dari sekelompok anak bangsa sendiri yang mencoba untuk mengimplementasikan budaya, etnik, rasbahasa, agama dan kepercayaannya yang paling superior dan ingin mau paling benar sendiri dengan menabur segala kebenciannya kepada perbedaan budaya, etnik, rasbahasa, agama dan kepercayaan yang lain sebagai inferior dengan istilah sebutan seperti musyrik, haram, kufur, fasiq, munafiq, thoghut, bid'ah, jahiliyah dan kafir. Jika kondisi masif ini terus dalam pembiaran Negara dan sementara gerakan mereka terus menggurita maka cepat atau lambat Negara Kesatuan Republik Indonesia akan sangat berpotensi menuju perpecahan.

Ide pendirian Negara Daulah Khilafah oleh Hizbut Tahir Indonesia (HTI) yang notabene ide Daulah Khilafah ini ditolak sebagai pemahaman yang sesat dan radikal di negara-negara Islam seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Yaman, Tunisia, Maroko, Turki, Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Lebanon, Bangladesh, Yordania, Irak, Suriah, Kyrgystan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan masih banyak yang lainnya tapi justru telah memberanikan diri secara masif untuk terus bergerak di segala lini kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang notabene sebagai Negara Kesatuan yang multikultural. Gerakan mereka sudah memasuki media dakwah, pendidikan, organisasi masyarakat dan partai politik. Islam Sebagai Agama Mayoritas telah dijadikan jargon utama untuk target akhir tujuan Daulah Khilafah.  

Dari kondisi corat-marutnya nilai Kebangsaan inilah yang telah menjadi dasar terwujudnya keprihatinan bersama dari berbagai elemen anak bangsa di Jogjakarta yang notabene memiliki keaneka-ragaman budaya, etnik, ras, bahasa, agama dan kepercayaan yang terkumpul dalam Aliansi Bela Garuda (ABG) sebagai wadah berserikat dan berkumpul. Pada awalnya ABG terbentuk dari sebuah nama WhatsApp Group (WAG) yang merupakan kumpulan dari kawan-kawan di Jogjakarta yang mempunyai kepedulian terhadap 4 Pilar Kebangsaan: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Dari WAG kemudian ABG membentuk media online berupa Blog (klik di sini), Facebook (klik di sini) dan Twitter (klik di sini). Konklusinya terbentuknya ABG tiada lain bertujuan menolak dan melawan melalui jalur konstitusi segala pemahaman keyakinan yang akan menggerus nilai-nilai dari 4 Pilar Kebangsaan. Sebab dengan 4 Pilar Kebangsaan inilah menjadi modal Kebangsaan betapa kebersamaan dalam perbedaan adalah bagian dari rahmatan lil'alamin.

Salam,
Joe Hoo Gi


 Print Friendly and PDF

Artikel Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *